EmitenNews.com - Alfamart, siapa yang tak tahu nama gerai yang hampir ada di tiap daerah. Mulai dari ingar-bingar sudut kota hingga berada di bawah rindangnya pepohonan di pedesaan. Alfamart merupakan salah satu motor pertumbuhan di balik perusahaan besar PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) di Indonesia.

Nama Djoko Susanto melekat jika melihat gurita bisnisnya lewat AMRT, mulai dari Alfmart, Dan+Dan, Alfamidi, Alfa Express, hingga Lawson.

Djoko Susanto sendiri lahir pada tahun 1950 di Jakarta dengan awal karier bisnisnya dari usaha toko kelontong kecil milik keluarga. Berkat kerja keras dan strategi bisnis yang tepat, di tahun 1989 berdirilah perusahaan dagang aneka produk oleh Djok Susanto dan keluarga yang kemudian menjual mayoritas kepemilikannya kepada PT HM Sampoerna Tbk.

Beranjak pada tahun 2002, berhasil mengakuisisi 1414 gerai Alfa minimart dan berganti nama menjadi Alfamart. Hingga di 2009 melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode AMRT dengan capaian 3.300+ gerai yang telah beroperasi.

Hingga usianya yang telah menginjak seperempat abad, AMRT melalui Alfamart terus menggeber ekspansi gerai hingga luar pulau Jawa. Bahkan, merujuk laman resminya 2000+ gerai telah beroperasi di Filipina dengan total 5 gudang.

Belakangan, perusahaan pengeola Alfmart yakni AMRT ramai diperbincangkan usai statusnya di indeks global MSCI terdepak alias turun kasta ke klasifikasi small cap indeks versi MSCI. Hal itu diketahui dalam rilis yang diunggah MSCI Inc yang mendepak 6 emiten dari MSCI Global Standard Index Indonesia, dan 13 emiten dari MSCI Global Small Caps, Rabu (13/5), dan beruntungnya AMRT, ia hanya berubah klasifikasinya saja.

Baca juga: AMRT Turun Kasta Liga MSCI Padahal Free Float 41%, Ada Apa?

Kinerja Kuartal I 2026

Hal itu dapat dilihat dari sisi kinerja keuangan terakhir AMRT per kuartal I 2026. Perusahaan berhasil meraup kenaikan pendapatan, terutama dari hasil penjualan barang di gerai sebesar 7,5% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp35,24 triliun. Lebih rinci, penjualan segmen makanan mencapai Rp25,18 triliun dan non-makanan Rp10,05 triliun.

Sejalan dengan itu, laba bruto pun ikut terkerek menjadi Rp7,67 triliun dari sebelumnya Rp7,17 triliun atau tumbuh sekitar 7,06%.