Permintaan Lantai Kontainer Bambu Capai 1.500 Meter Kubik Sebulan
Permintaan ekspor lantai kontainer berbahan bambu mencapai 1.500 meter kubik per bulan, sementara kapasitas produksi nasional baru sekitar 30 meter kubik per bulan.
EmitenNews.com - Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengungkapkan, industri bambu nasional memiliki peluang besar di sektor kerajinan, furnitur, konstruksi, hingga bioindustri. Apalagi, permintaan global terhadap produk bambu bernilai tambah terus meningkat.
“Saat ini, permintaan ekspor lantai kontainer berbahan bambu mencapai 1.500 meter kubik per bulan, sementara kapasitas produksi nasional baru sekitar 30 meter kubik per bulan. Kesenjangan ini menunjukkan peluang ekspansi industri bambu yang sangat besar,” tegas Putu.
Di pasar domestik, permintaan juga meningkat pesat, terutama untuk pembangunan kawasan pariwisata seperti Bali, Mandalika, Lombok, dan Labuan Bajo. Bahkan, bangunan berbasis bambu memiliki nilai ekonomi tinggi, dengan harga mencapai Rp12 juta per meter persegi.
”Menariknya, investasi konstruksi bambu dinilai lebih efisien. Break Even Point (BEP) bangunan bambu hanya sekitar 3 tahun, jauh lebih cepat dibanding konstruksi beton yang membutuhkan 6–7 tahun,” ungkapnya.
Untuk menjawab tantangan keterbatasan SDM dan bahan baku berkualitas, Kemenperin menginisiasi Akademi Komunitas Bambu (AKB) sebagai program pelatihan berbasis kompetensi. Program ini berfokus pada pengolahan bambu pada sisi hulu, pengolahan pascapanen sehingga bambu siap digunakan industri.
Inisiasi AKB telah dilaksanakan pada tahun 2025 di Bali dengan menerapkan komposisi 70 persen praktik dan 30 persen teori, serta akan diarahkan menghasilkan SDM bambu bersertifikat kompetensi. Silabus AKB akan dijadikan dasar penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bambu.
Kemenperin juga menilai ekosistem yang telah terbentuk di Bangli berpotensi untuk dijadikan sebagai pusat logistik bambu. Hal ini didukung oleh ketersediaan bahan baku, mesin pengolahan bambu, sentra IKM dan industri bambu. Pengembangan serupa juga telah dipetakan di Yogyakarta, yang telah memiliki ekosistem kolaborasi riset, komunitas, dan industri bambu.
Melalui penguatan SDM, standardisasi, dan ekosistem industri, Kemenperin optimis industri bambu nasional dapat tumbuh, berdaya saing global, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional.(*)
Related News
IHSG Bangkit ke 8.322, Sektor Kesehatan dan Konsumer Pimpin Rebound
IHSG Sesi I Naik 0,6 Persen ke 8.330, Satu Sektor Drop!
Tanpa Sertifikasi, Makanan Impor AS Harus Dinyatakan Tidak Halal
Yakin DN Mampu, Impor Pick-Up dari India Untuk Kopdes MP Perlu Dikaji
RI Desak UE Segera Patuhi Putusan WTO Soal Sengketa Minyak Sawit
Buru Recurring Revenue Rp1,5 Triliun, Ini Tindakan Triniti Land Group





