PMA Jadi Penopang Saat PMDN Loyo, Sektor Jasa Kini Jadi Incaran Asing
:
0
Ilustrasi data center. Foto: TelkomUniversity.
EmitenNews.com - Ketahanan investasi nasional sepanjang Januari-September 2026 banyak ditopang modal asing. Pasalnya, penanaman modal dalam negeri justru melemah dan menahan laju total investasi.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi penanaman modal asing mencapai Rp777,8 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Capaian itu naik 20,67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Riset NEXT Indonesia Center, Ade Holis di Jakarta, Minggu (8/11/2026) menilai kondisi tersebut tidak bisa dibaca sekadar sebagai kabar baik. Menurutnya, ketergantungan pada modal asing perlu diwaspadai karena investasi yang sehat perlu peran seimbang antara modal asing dan domestik.
"PMA memang mampu menopang pertumbuhan investasi ketika PMDN melemah. Namun, kondisi ini juga perlu menjadi perhatian karena pertumbuhan investasi yang sehat membutuhkan kontribusi modal asing dan domestik secara seimbang," ujar Ade Holis.
Pelemahan PMDN tercermin dari kontraksi dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal II-2026, PMDN menyusut 7,77% secara tahunan, lalu kembali turun 7,48% pada kuartal III-2026.
Ade menyebut tiga faktor yang menahan ekspansi pengusaha domestik, yakni permintaan pasar yang belum pulih, biaya produksi dan pembiayaan yang tinggi, serta ketidakpastian regulasi. Dampaknya, pertumbuhan investasi kumulatif hingga kuartal III-2026 hanya berada di kisaran 7-8%, melambat dari pertumbuhan dua digit pada periode 2022-2025.
"Memperbaiki iklim usaha bagi pelaku domestik ini penting, pemerintah perlu memastikan kepastian regulasi dan kemudahan berusaha agar pelaku usaha dalam negeri kembali memiliki ruang untuk berekspansi," ungkap Ade.
Di sisi lain, arah PMA mulai bergeser. Jika selama ini industri pengolahan logam dasar masih menjadi penyumbang terbesar dengan Rp246,6 triliun, kini sektor Jasa Lainnya mencatatkan pertumbuhan paling kencang.
Analisis NEXT Indonesia Center menunjukkan realisasi PMA di sektor tersebut melonjak 86,02% menjadi Rp100,4 triliun. Lonjakan itu terutama didorong pembangunan pusat data atau data center.
Jawa Barat tampil sebagai titik utama arus modal tersebut. Pembangunan data center berskala global di Cikarang dan Bekasi oleh perusahaan asal Singapura membuat provinsi itu menyerap PMA sektor jasa dalam jumlah besar.
Related News
MSCI Tekan IHSG Pekan Depan? Ini Kata Analis
12 Inovasi Pilihan Ashoka, Dari Kelas Alam hingga Fantasi Tuli
MKNT Masuk Saham HSC & Keluar IHSG, Analis: Indeks Jadi Lebih Jujur
BLUE, PTSP hingga RSCH Kompak Ambles 29%, Ini Top Losers Sepekan!
Saham HSC Pimpin Top Gainers Pekan Ini, Cek Selengkapnya
IHSG Koreksi 0,13% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Turun ke Rp8.744T





