PRDL IPO dengan Valuasi Kompetitif, Fokus Ekspansi Alat Diagnostik
:
0
Bidik Proyek Cek Kesehatan Gratis. Foto - Dok Proline
EmitenNews.com - Pada perdagangan Selasa (30/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 177,6 poin atau 3,05 persen menjadi .643,19 setelah sepanjang hari bergerak di zona merah. Memasuki Juli 2026, Bursa Efek Indonesia dijadwalkan menyambut enam perusahaan yang melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Itu mencerminkan optimisme emiten terhadap prospek jangka panjang pasar modal Indonesia.
Salah satu emiten baru yaitu Prodia Diagnostic Line (PRDL) resmi memasuki masa penawaran umum perdana, berlangsung pada 1–7 Juli 2026. Perseroan menawarkan 522,9 juta saham baru atau setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga penawaran Rp120 per lembar. Di tengah kondisi pasar masih berfluktuasi, Perseroan tetap optimistis terhadap prospek bisnis jangka panjang.
Nah, dDri sisi valuasi, pada prospektus yang disampaikan, dengan harga final tersebut PRDL menawarkan price to earnings ratio FY2025 pada 8,61x, yang dinilai sangat kompetitif dibanding sejumlah emiten sektor kesehatan, terutama dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja perseroan terus menunjukkan tren positif. Melalui penawaran umum itu, PRDL berpotensi menghimpun dana segar Rp62,7 miliar.
Dana itu, akan digunakan untuk mendukung pengembangan usaha, dan memperkuat posisi di industri alat kesehatan diagnostik nasional. Saham PRDL dijadwalkan mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2026. Sucor Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek menggelar Stock Idea Talks Special bertajuk "Kupas Tuntas IPO PRDL: Valuasi Menarik di Tengah Prospek Pertumbuhan Industri Diagnostik" pada Selasa (30/6/2026).
Acara itu, menghadirkan Dr. Cristina Sandjaja, Direktur Utama Prodia Diagnostic Line. Ia memaparkan prospek industri, strategi pertumbuhan, hingga rencana penggunaan dana hasil IPO kepada investor. Cristina menjelaskan PRDL merupakan salah satu pionir produsen alat kesehatan diagnostik dalam negeri telah beroperasi lebih dari 14 tahun.
PRDLer memiliki lebih dari 1.083 SKU produk, menjangkau 38 provinsi, 370 kabupaten/kota, dan telah digunakan oleh lebih dari 7.611 pelanggan Indonesia. Jaringan itu, mencakup sekitar 6.924 puskesmas, 288 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten/kota, dan puluhan institusi kesehatan lainnya. Selain itu, lini produk utama PRDL juga telah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 70 persen, memperkuat daya saing produk lokal di tengah meningkatnya kebutuhan alat kesehatan nasional.
Prospek industri juga dinilai masih sangat menjanjikan. Pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan Rp244 triliun pada 2026 serta menargetkan program skrining kesehatan nasional yang menjangkau sekitar 140 juta penduduk. Didukung lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia dan meningkatnya fokus pemerintah terhadap deteksi dini penyakit, industri in vitro diagnostics diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan besar dalam beberapa tahun ke depan.
"Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer belum seluruhnya terjangkau. Dengan jaringan distribusi yang telah mencakup hampir seluruh Indonesia serta dukungan produk ber-TKDN tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan layanan kesehatan nasional," papar Cristina.
Dari sisi kinerja, PRDL juga menunjukkan pemulihan yang solid menjelang IPO. Sepanjang 2025, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp74,4 miliar, meningkat 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih juga tumbuh 70,7 persen menjadi Rp16,9 miliar, sementara EBITDA meningkat 66,9 persen menjadi Rp29,2 miliar, mencerminkan penguatan profitabilitas dan efisiensi operasional.
Melihat fundamental bisnis terus bertumbuh, dan prospek industri masih terbuka lebar, PRDL optimistis dapat memanfaatkan momentum IPO untuk memperluas jangkauan bisnis, meningkatkan kapasitas operasional, dan memperkuat kontribusi terhadap pengembangan industri alat kesehatan nasional.
Related News
Target BSI (BRIS) Naik Kelas ke KBMI 4, Kejar Modal Inti di Atas Rp70T
Dua Anggota Keluarga Tanoesoedibjo Tinggalkan Kursi Komisaris BHIT
BUMI Ungkap Nasib Tambang Emas, Begini Lengkapnya
IPO Grup Djarum (BACH) di Rp442/Saham, Mundur Sehari & Tambah UW Baru
Pacu Ekspansi Regional, MAPA Akuisisi Sports Direct Malaysia Rp2,5T
24 dari 37 Saham Ini Lanjut Disuspensi BEI, Imbas Ekuitas Negatif





