RANS Entertainment Go Public, 7 dari 15 Bisnisnya Mati Suri
:
0
RANS Entertainment Go Public, 7 dari 15 Bisnisnya Mati Suri. Dok. Rans Entertainment.
EmitenNews.com - Kalau kita cuma melihat layar Instagram atau YouTube, RANS adalah definisi dari invincible, raksasa atensi yang tidak bisa dikalahkan. Berbeda cerita jika membaca prospektus IPO PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), hingga menyadarkan kita pada satu hukum besi dunia bisnis. Siapa yang tidak tahu Raffi Ahmad Nagita Slavina (RANS)? Pasangan selebritis itu sudah sangat terkenal di jagat maya maupun layar-layar kaca televisi.
Lewat aksi korporasi ini, RANS mengincar dana segar dari publik maksimal Rp429,25 miliar. Pertanyaannya: untuk apa uang sebanyak itu, dan ke mana sebenarnya arah kemudi bisnis keluarga ini?
Menelisik prospektus perusahaan ini menyingkap fakta telak, bahwa menangkap mata penonton di layar gawai itu jauh lebih mudah ketimbang mengelola mesin kasir di dunia nyata bagi RANS Entertainment.
Secara pembukuan, total pendapatan RANS sepanjang tahun 2025 mencapai Rp353,37 miliar. Namun, begitu penutup mesinnya kita buka, omzet ratusan miliar ini ternyata ditopang oleh dua "kaki" yang melangkah ke arah yang saling bertabrakan.
Kaki yang Berotot (Segmen Hiburan & Lifestyle). Segmen ini menyumbang 69,73% omzet atau sebesar Rp246,37 miliar. Lini yang isinya konten media sosial, brand ambassador, manajemen talenta, hingga event ini adalah urat nadi murni perusahaan. Lini ini sangat sehat dan efisien dengan mencetak laba segmen Rp85,70 miliar (marjin 34,8%).
Kaki yang Berdarah (Segmen Penjualan Produk). Sebanyak 30,27% terhadap omzet (Rp107,01 miliar), lini bisnis lewat jualan camilan rumput laut merek Rumut dan produk kecantikan. Di sinilah letak kebocorannya, segmen penjualan produk ini rugi Rp11,99 miliar sepanjang 2025. Padahal pada tahun 2024, mereka masih sempat untung Rp2,33 miliar. Penjelasan manajemen akan fakta itu dikarenakan marjin produk tertekan, sementara ongkos distribusi dan pemasaran membengkak demi merebut pasar.
Hasilnya, terjadi subsidi silang yang melelahkan. Uang iklan yang susah payah dicari Raffi, Nagita, dan tim kreatif di depan kamera, dipaksa habis untuk menambal kerugian bisnis jualan camilan di rak-rak minimarket.
Dalam perspektif keuangan korporat dan Boston Consulting Group (BCG) Matrix, perseroan memperlihatkan inkonsistensi disiplin alokasi modal. Segmen Hiburan yang mencetak marjin 34,8% adalah Cash Cow murni, sementara segmen Produk yang merugi merupakan Dogs. Alih-alih melakukan divestasi pada unit yang membakar uang, manajemen justru melakukan subsidi silang yang menggerus nilai (value-destroying cross-subsidization).
Mengalokasikan Rp80 miliar dana IPO untuk membangun permanen wahana fisik Cipungland yang format pop-up historisnya baru menyumbang 1,57% omzet merupakan bentuk pengabaian terhadap prinsip capital rationing, di mana modal publik disuntikkan ke dalam model bisnis berkinerja rendah tanpa justifikasi skalabilitas yang teruji.
Laporan keuangan 2025 mereka juga terlihat menyusut karena perseroan tidak lagi menerima kontribusi omzet Rp9,78 miliar dari klub bola Rans FC yang sudah dilepas pada 2024.
Related News
Korsel Gagal Naik Kasta ke Developed, Indonesia Diancam Masuk Frontier
Untung di Kertas Seret di Brankas, Bedah Prospektus IPO EMMI
Dibeking Grup Djarum, Seberapa Mahal Valuasi IPO BACH?
Bos ESSA Rela Diet Utang Demi Investor Pesta Dividen 2 Digit
Berani Naik Panggung Bursa Demi Bayar Utang, Apa Janji RS Mata JEC?
Vietnam Terancam Gagal Naik Kasta MSCI, Beda Mazhab dengan FTSE





