Reli Emas 2025 Fantastis, Begini Prospeknya Tahun Ini
Ilustrasi emas batangan (GGC)
EmitenNews.com - World Gold Council (WGC) merilis laporan Gold Market Commentary yang menyoroti kinerja emas yang luar biasa sepanjang 2025 dan melihat peluang dinamika pasar logam mulia menjelang 2026.
Menurut WGC, harga emas mencatatkan peningkatan sekitar 67 persen sepanjang 2025, dan logam mulia ini juga memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa di level US$4.449 per troy ons pada Desember. Rekor ini tercapai di hampir seluruh mata uang utama, meski besaran imbal hasil tahunan dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar global.
Laporan tersebut menegaskan bahwa lonjakan harga emas tidak hanya didorong oleh faktor jangka pendek, tetapi juga tuntutan struktural yang kuat, termasuk permintaan dari bank sentral serta fungsi emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio di tengah meningkatnya ketegangan global dan ketidakpastian ekonomi.
Emas kembali memperkuat posisinya sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang semakin diminati, terutama ketika volatilitas pasar dan risiko geopolitik meningkat. Hal ini menunjukkan pergeseran sentimen investor dari sekadar aset tradisional menjadi pilihan utama untuk mengamankan nilai kekayaan di tengah ketidakpastian global.
Potensi Naik 15–30 Persen Pada 2026
Melihat ke depan, WGC menguraikan beberapa faktor utama yang akan membentuk dinamika pasar emas di 2026. Di antaranya, keputusan kebijakan penting seperti keputusan Mahkamah Agung AS terkait tarif serta kemungkinan penyesuaian ekspektasi terhadap jalur suku bunga The Fed yang menjadi fokus pasar.
Laporan outlook juga mencatat bahwa apabila pertumbuhan ekonomi global melambat dan suku bunga berpotensi turun lebih lanjut, emas bisa mengalami kenaikan moderat hingga signifikan. Dalam skenario paling bullish—yang disebut sebagai doom loop—emas berpeluang menguat 15–30 persen dari level saat ini, terutama jika risiko global meningkat tajam.
WGC menekankan bahwa peran emas dalam kerangka portofolio tetap penting, didukung oleh alokasi tambahan dari investor institusional, bank sentral, serta permintaan keseluruhan yang menunjukkan diversifikasi lanjut aset di luar instrumen berimbal hasil.
Related News
Survei LPEM UI, Harga Lebih Terjangkau Mobil Bekas Jadi Pilihan
Pemerintah Pangkas Produksi Batu Bara, APBI Ingatkan Soal Tenaga Kerja
Bos Danantara Pastikan Ada Tambahan Saham Warga Asli Papua di Freeport
Sekuritas Valas BI Hadir Kembali, Kali Ini Bernilai Rp1,61 Triliun
Pertama Kali Dalam 9 Tahun, Lifting Minyak Lewati Target APBN
Pemerintah Akan Revisi RKAB Untuk Perbaiki Harga Pasar Batu Bara





