EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (8/5) pagi terpantau melemah tipis. Pelemahan rupiah terjadi di tengah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari ekspektasi.
Pada pukul 10.22 WIB rupiah dibuka melemah 34 basis poin atau 0,232 persen ke posisi Rp14.703 per dolar AS. Turun dibandingkan kurs pada penutupan perdagangan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp14.669 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra memaparkan data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat kemarin di luar dugaan lebih bagus dari ekspektasi. "Hal ini membalikkan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan AS di tahun ini. Ini bisa membantu mendorong penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya," katanya.
Ariston menuturkan data penggajian nonpertanian (Non-Farm Payroll/NFP) AS April 2023 dilaporkan 253.000, lebih tinggi dari perkiraan 190.000. Sedangkan, data pengangguran dirilis 3,4 persen, lebih baik dari ekspektasi 3,6 persen.
Selain itu, rata-rata upah per jam tumbuh 0,5 persen, di atas perkiraan 0,3 persen. Hal tersebut menunjukkan kondisi tenaga kerja AS masih bagus dan bisa memicu inflasi lagi.
Ia memperkirakan rupiah masih mungkin melemah ke Rp14.700 per dolar AS, dengan potensi penguatan ke arah Rp14.650 per dolar AS hingga Rp14.630 per dolar AS.(*)
Related News
Inilah Profil Jeffrey Hendrik, Pimpinan Sementara BEI
Permintaan Tinggi Angkat HPE Konsentrat Tembaga dan Emas
Dari 23 Subsektor Industri Pengolahan, 20 Di Fase Ekspansi
Bapanas Pastikan Ketersediaan Pangan Pokok Aman Hingga Maret
IKI Januari 2026 Catat Rekor Tertinggi Dalam 49 Bulan
Pemerintah Dan BI Perkuat Sinergi Kendalikan Inflasi 2026





