EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan rentang area di Rp17.590 hingga Rp.17.660 pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026).

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut rupiah masih akan menghadapi tekanan seiring dinamika sentimen eskternal kebijakan AS hingga tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas.

Ibrahim mengatakan, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.600 selama libur panjang di pasar internasional, sampai kemudian BI melakukan intervensi.

“Dalam perdagangan di bulan Mei ini, kemungkinan besar Rp18.000 tembus, jika level Rp18.000 tembus, kemungkinan rupiah bisa menuju Rp22.000,” ujarnya.

Ibrahim menyebut, pergantian kepemimpinan The Fed ke Kevin Warsh juga diprediksi membawa pendekatan kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga ekspektasi pasar terhadap penurnan suku bungan The Fed pada 2026 kian menurun.

Situasi tersebut juga diperparah dengan memanasnya konflik di Selat Hormuz antara AS dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Karena itu berdampak langsung terhadap beban subsidi BBM pemerintah dan pada akhirnya menekan stabilitas nilai tukar.

“Kepemimpinan Fed saat ini sudah pindah ke tangan Kevin Warsh. Dengan inflasi yang tinggi di AS dan kenaikan harga bensin, ada kemungkinan besar di tahun 2026 bank sentral AS tidak akan menurunkan suku bunga,” lanjutnya

Di tengah volatilitas, BI juga terpantau aktif melakukan intervensi di pasar offshore guna menahan laju pelemahan rupiah. Menurut Ibrahim, meski pasar lokal libur, BI terus akti menarik rupiah ke bawah level Rp17.600.

Kendati dibayangi tekanan eskternal yang cukup besar, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi relatif solid. Hal itu tercermin dari komposisi kepemilikan obligasi negara masih didominasi investor domestik, sehingga risiko capital outflow dalam skala besar dinilai masih terkendali.

Rupiah dari Tahun ke Tahun