EmitenNews.com - Presiden Prabowo Subianto hanya benar secara literal dalam soal masyarakat desa tidak menggunakan dolar Amerika Serikat. Namun melemahnya nilai tukar rupiah akan mempengaruhi hampir seluruh rantai harga dalam negeri, termasuk yang akhirnya dirasakan orang-orang di desa. Dolar AS telah menembus Rp17.600, yang berarti jauh dari yang dipatok APBN 2026 yakni Rp16.500.

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita mengemukakan hal tersebut kepada pers, Minggu (17/5/2026), menanggapi melemahnya nilai tukar rupiah atas kedigjayaan USD.

Menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah, Presiden Prabowo Subianto dinilai terkesan santai. Ia malah menyebut, masyarakat desa tidak menggunakan dolar.

Menurut Ronny Sasmita, dalam perekonomian rakyat kecil sering kali justru menjadi pihak paling akhir menyadari gejolak kurs, tetapi paling cepat merasakan dampak kenaikan harga.

Jadi, masyarakat desa mungkin tidak bertransaksi memakai dolar, tetapi pembelian, dan pemakaian pupuk, BBM, logistik, pakan ternak, obat-obatan, mesin pertanian, bahkan sebagian bahan pangan sangat dipengaruhi kurs.

Kalau konteksnya ingin menenangkan publik, narasi seperti yang dikembangkan Presiden Prabowo itu justru berisiko menyederhanakan persoalan yang sebenarnya jauh lebih kompleks.

Ronny menyebutkan ada sejumlah risiko yang ditimbulkan. Pertama, risiko psikologis pasar. Investor sangat sensitif terhadap komunikasi pejabat tinggi negara. Kalau komunikasi dianggap meremehkan tekanan rupiah, pasar bisa membaca bahwa respons kebijakan tidak akan agresif atau tidak cukup serius. “Artinya, itu bisa memperbesar tekanan terhadap rupiah dan arus modal keluar."

Risiko Terhadap Kepercayaan Publik

Untuk yang kedua, risiko terhadap kepercayaan publik. Ronny mengatakan masyarakat kini jauh lebih peka terhadap harga kebutuhan pokok dibanding beberapa tahun lalu. Jadi ketika rakyat merasakan harga naik tetapi elite memberi kesan tidak terlalu berdampak, bisa muncul jarak persepsi antara pemerintah dan kondisi riil masyarakat.

"Dalam ekonomi, trust sama pentingnya dengan cadangan devisa. Sekali kepercayaan publik menurun, efeknya bisa panjang," katanya lagi.