EmitenNews.com - Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mengetok sebanyak 21%, atau setara Rp445 miliar dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tahun buku 2024 sebagai dividen tunai, dengan dividen per saham (DPS) sebesar Rp24. 

Dalam keterangannya Selasa (17/6/2025), Head of Investor Relations CTRA Aditya Ciputra Sastrawinata merinci, sepanjang tahun buku 2024, emiten properti tersebut berhasil membukukan kenaikan laba bersih dari Rp1,89 triliun pada tahun buku 2023, menjadi Rp 2,1 triliun. Pertumbuhan laba tersebut paralel dengan penjualan perseroan yang naik dari Rp9,24 triliun menjadi Rp11,18 triliun. 

Alhasil, selain mendistribusikan dividen kepada para pemegang saham, RUPST Ciputra juga menyetujui laba bersih perseroan pada tahun buku 2024 digunakan untuk cadangan sebesar Rp1 miliar dan Rp1,68 triliun dialokasikan sebagai laba ditahan, 

Head of Investor Relations CTRA Aditya Ciputra Sastrawinata merinci, cum date atau tanggal terakhir pembelian saham yang berhak menerima dividen jatuh pada 25 Juni. Sedangkan, ex-date dan seterusnya ditetapkan pada 26 Juni 2025.

Perseroan menargetkan pre-sales sama seperti 2024 yaitu Rp11 triliun

Pada kesempatan tersebut, Aditya juga menyebutkan mengenai target prapenjualan (presales) perseroan pada tahun ini. “Pada 2025, kami menargetkan pre-sales sama seperti 2024 yaitu di Rp 11 triliun,” ujar Aditya dalam konferensi pers di Hotel Raffles Jakarta, Selasa (17/6/2025). 

Target tersebut stagnan atau konservatif dikarenakan perseroan menghadapi dua tantangan utama. Pertama, mengenai suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang kecil potensinya untuk mengalami penurunan.

Namun pada saat bersamaan, KPR merupakan sistem pembayaran yang berkontribusi cukup signifikan kepada CTRA dengan sumbangsih sekitar 72% terhadap prapenjualan perseroan. 

Artinya, ketergantungan CTRA terhadap KPR meningkat. Jika melihat situasi likuiditas perbankan saat ini, rasio pinjaman lebih dari 90%, telah membuat beberapa bank tidak lagi memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga KPR, sehingga hal tersebut berdampak kepada prapenjualan CTRA. 

Alasan kedua yang menyebabkan CTRA memasang target konservatif, adalah perseroan sedang agresif mencari proyek-proyek baru. Sayangnya, sejauh ini belum ada proyek baru yang bisa berkontribusi terhadap prapenjualan CTRA di 2025.