EmitenNews.com - Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat menguat tipis pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Pergerakan ini terjadi setelah tiga indeks utama Wall Street melemah pada sesi sebelumnya akibat tekanan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Pasar ekuitas AS berusaha bangkit setelah pada perdagangan reguler Senin (28/9/2026) indeks Dow Jones ditutup melemah 0,67 persen, S&P 500 terkoreksi 0,77 persen, dan Nasdaq Composite melorot 0,92 persen.

Menurut Trading Economics pada Selasa (29/9/2026) penurunan indeks dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang bergerak di atas 5,2 persen serta tenor 30 tahun yang menyentuh level 5,55 persen.

Tekanan pada bursa global terdorong oleh perkiraan pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh Bank Sentral AS. Pelemahan saham terjadi karena imbal hasil obligasi pemerintah AS terus meningkat di tengah ekspektasi bahwa inflasi yang persisten dapat mendorong Federal Reserve memperketat suku bunga lebih lanjut.

Para investor tetap mencermati perkembangan geopolitik di tengah ketidakpastian negosiasi AS-Iran, meskipun Arab Saudi berhasil memulihkan aliran minyak melalui jalur pipa utamanya.

Selain faktor makroekonomi, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data kepercayaan konsumen serta laporan lowongan pekerjaan dan perputaran tenaga kerja AS. Dari sektor korporasi, produsen chip AMD telah menyepakati akuisisi terhadap perusahaan kecerdasan buatan World Labs dengan nilai transaksi mencapai USD8,2 miliar.

Dinamika pergerakan kontrak berjangka AS dan tingginya imbal hasil obligasi Treasury ini menjadi perhatian bagi pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut memengaruhi arah arus modal asing di Bursa Efek Indonesia serta membayangi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.(*)