EmitenNews.com - Pasar saham China mengalami penurunan tajam pada perdagangan hari Kamis setelah aksi jual massal melanda sektor teknologi. Koreksi ini menghentikan tren penguatan yang sempat terjadi pada sesi-sesi sebelumnya.

Berdasarkan data dari Trading Economics, Indeks Shanghai Composite melemah 1,4 persen ke level 4.054, mengakhiri kenaikan yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Sementara itu, Indeks Shenzhen Component anjlok lebih dalam sebesar 2,7 persen ke posisi 15.678, sekaligus memperpanjang kerugian dari sesi perdagangan hari sebelumnya.

Kedua indeks acuan tersebut tertekan oleh aksi ambil untung investor yang mulai menilai kembali keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI). Muncul kekhawatiran di pasar bahwa valuasi saham-saham teknologi tersebut telah meningkat terlalu cepat dalam waktu singkat.

Selain faktor valuasi, sentimen pasar juga terbebani oleh laporan mengenai Apple yang tengah berada dalam pembicaraan untuk mengamankan pasokan chip memori dari produsen asal China, yaitu ChangXin Memory Technologies (CXMT) dan Yangtze Memory Technologies Co. (YMTC). Langkah korporasi ini dinilai berpotensi menarik perhatian para pembuat kebijakan Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Beijing terkait penguasaan teknologi canggih.

Sejumlah saham teknologi papan atas mencatatkan penurunan performa yang signifikan. Beberapa di antaranya adalah Cambricon Technologies yang merosot 6,9 persen, Hygon Information Technology turun 5,5 persen, Eoptolink Technology melemah 5,2 persen, dan Victory Giant Technology terpangkas 5,7 persen. Selain itu, saham Zhongji Innolight dan produsen chip terkemuka SMIC juga masing-masing melemah 3,7 persen dan 2,7 persen.

Penurunan indeks di pasar saham China ini mengonfirmasi tren serupa yang terjadi di sejumlah bursa saham Asia lainnya. Pelemahan di sektor teknologi global berimbas pada koreksi indeks acuan di kawasan regional, di mana para investor cenderung bersikap berhati-hati dan mengurangi kepemilikan aset berisiko mereka.

Kondisi pasar global yang regionalnya memerah ini turut memberikan dampak psikologis terhadap pergerakan pasar keuangan di Indonesia. Penurunan indeks di negara-negara mitra dagang utama Asia seperti China biasanya memicu sikap waspada di kalangan investor domestik dalam negeri, yang mengantisipasi adanya limpahan sentimen negatif terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).(*)