EmitenNews.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik pada paro kedua tahun 2026 tetap terjaga pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, meski dibayangi ketidakpastian pasar global dan gangguan distribusi.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menyatakan bahwa proyeksi tersebut didorong oleh membaiknya kinerja investasi, baik dari sektor bangunan maupun non-bangunan.

"Membaiknya investasi khususnya dari kedua sisi, baik bangunan maupun non-bangunan, terutama didorong dari hasil investasi proyek-proyek strategis pemerintah yang mulai groundbreaking," ujar Aida dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (19/8/2026).

Aida menjelaskan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen. Selain investasi pada Proyek Strategis Nasional (PSN), Kawasan Industri (KI), dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), momentum pertumbuhan juga ditopang oleh belanja pemerintah, termasuk pengeluaran pegawai, belanja barang dan jasa, serta pembayaran gaji ke-13.

Dari sisi inflasi, BI mencatat kondisi nasional masih terkendali dalam rentang sasaran 2,5 plus minus 1 persen, meskipun berpotensi mengalami sedikit kenaikan di akhir tahun. Pengendalian inflasi didukung oleh sinergi menjaga dampak El Nino dan pengelolaan pasokan pangan (volatile food) melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) bersama TPID dan TPIP.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 145,3 miliar USD. Aida menilai angka tersebut lebih dari cukup untuk menjaga ketahanan sektor eksternal.

Meskipun neraca perdagangan mengalami penurunan akibat peningkatan impor migas dan impor non-migas untuk kebutuhan investasi, BI memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. BI juga mencatat pertumbuhan uang primer (M0) mencapai 18,3 persen pada Juli 2026 untuk mendukung likuiditas perekonomian.(*)