Emas Anjlok ke Bawah USD4.350 Tertekan Obligasi Global
:
0
Harga logam mulia emas dunia terus menunjukkan tren penurunan hingga diperdagangkan di bawah level USD4.350 per ons pada perdagangan hari Rabu.(Foro: Magnific).
EmitenNews.com - Harga logam mulia emas dunia terus menunjukkan tren penurunan hingga diperdagangkan di bawah level USD4.350 per ons pada perdagangan hari Rabu. Pelemahan nilai ini berlanjut setelah harga emas tercatat turun hampir dua persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Penurunan harga emas tersebut secara langsung mendapat tekanan dari tingginya imbal hasil obligasi global. Berdasarkan laporan dari Trading Economics, lonjakan imbal hasil obligasi ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran fiskal di berbagai negara, serta tekanan inflasi global yang terus-menerus terjadi tanpa henti.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Teheran saat ini. Pernyataan ini menegaskan indikasi bahwa Amerika Serikat dan Iran belum akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Di sisi lain, pasukan Iran dilaporkan telah meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ketegangan militer di jalur perdagangan utama tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya memberikan tekanan ganda terhadap pergerakan harga emas di pasar komoditas.
Instrumen investasi obligasi kini tampak lebih menarik bagi pelaku pasar. Imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat bertenor 30 tahun telah mencapai level tertinggi dalam 19 tahun terakhir pada minggu ini. Kondisi serupa juga terlihat pada imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara dengan ekonomi utama lainnya yang ikut melambung ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Fokus para investor saat ini beralih pada sikap menunggu atau wait and see terhadap risalah dari pertemuan The Federal Reserve bulan Juli. Pelaku pasar juga menantikan pernyataan dari Ketua The Fed Kevin Warsh pada simposium tahunan Jackson Hole untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai arah dan prospek kebijakan moneter ke depan.
Bagi Indonesia, pelemahan harga emas global dan tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat memberikan tantangan tersendiri. Kenaikan imbal hasil obligasi global berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar keuangan domestik, sehingga pemangku kebijakan harus terus menjaga daya tarik imbal hasil Surat Berharga Negara.
Selain itu, turunnya harga emas dunia akan langsung berdampak pada penyesuaian harga jual ritel di dalam negeri, yang kerap menjadi acuan investasi aman bagi masyarakat Indonesia di tengah gejolak pasar global.(*)
Related News
Kebuntuan AS-Iran Dorong Brent Melambung di Atas USD91
Investor Wait and See Risalah Fed dan Laporan Keuangan Peritel
SBN dan SRBI Laris, Utang LN Triwulan II 2026 Naik 4,4%
Besaran Nilai Pajak Perlu jadi Pertimbangan Saat Beli Mobil Hybrid
Tunda Rombak Total Saham Indonesia, FTSE Russell Beberkan Data Ini
Perkuat Jaringan Nasional, Citilink Terbangi 5 Kota Besar dari Bandung





