EmitenNews.com - Pasar saham Amerika Serikat berada dalam posisi wait and see menjelang rilis risalah pertemuan The Federal Reserve dan laporan keuangan kuartalan para peritel besar. Sikap hati-hati investor ini membuat pergerakan kontrak berjangka saham AS cenderung stabil pada Rabu, setelah indeks utama anjlok akibat aksi jual sektor teknologi.

Berdasarkan data Trading Economics, tekanan pada sesi sebelumnya dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi global dan lonjakan harga minyak. Imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun bahkan menembus level tertinggi dalam 19 tahun pada minggu ini.

Di perdagangan reguler Selasa, tiga indeks acuan kompak melemah selama tiga sesi berturut-turut. Indeks Dow Jones turun 0,22 persen, S&P 500 melemah 0,69 persen, dan Nasdaq Composite anjlok 1,33 persen akibat koreksi tajam saham semikonduktor.

Saham produsen chip kecerdasan buatan mengalami penurunan signifikan, antara lain Micron yang terkoreksi 7 persen, Sandisk 9 persen, Intel 6,6 persen, AMD 4,3 persen, dan Nvidia 2,3 persen. Sentimen pasar semakin tertahan oleh isu geopolitik AS-Iran yang belum menunjukkan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rilis risalah The Fed bulan Juli untuk membaca arah kebijakan suku bunga. Selain itu, laporan keuangan peritel raksasa seperti Target, TJX, dan Lowe's dinanti guna mengukur ketahanan konsumsi rumah tangga.

Sikap wait and see dan gejolak imbal hasil obligasi AS ini turut membayangi pasar keuangan Indonesia. Pergerakan instrumen global tersebut menjadi sentimen eksternal yang memengaruhi stabilitas nilai tukar Rupiah dan arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).(*)