Sampai Akhir Februari Pembiayaan APBN Terealisasi 23,5 Persen
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta pada Rabu (11/03).(Foto: Kemenkeu)
EmitenNews.com - Realisasi pembiayaan APBN tahun 2026 masih terjaga dengan baik dan berada dalam batas yang terkendali. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta pada Rabu (11/03).
“Strategi pembiayaan dilakukan secara antisipatif, yaitu untuk memastikan ketersediaan kas tetap memadai, sekaligus menjaga fleksibilitas pembiayaan untuk merespons dinamika pasar yang sedang terjadi,” ungkap Wamenkeu Juda.
Hingga 28 Februari 2026, realisasi pembiayaan anggaran sebesar Rp164,2 triliun atau sekitar 23,5 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN. Besaran realisasi tersebut terdiri atas pembiayaan utang sebesar Rp185,3 triliun dan pembiayaan non utang negatif Rp21,1 triliun.
Sebagian besar pembiayaan utang masih ditopang oleh pendanaan dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dengan minat investor yang tetap tinggi. Hal ini tercermin dari bid to cover ratio untuk Surat Utang Negara (SUN) yang tetap terjaga di atas dua kali.
Sementara itu, untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) rasio tersebut bahkan mencapai 3,1 kali. Capaian ini juga tercatat lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Ini juga menunjukkan bahwa minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian kita masih terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global yang sangat penuh dengan ketidakpastian,” jelas Wamenkeu Juda.
Minat investor asing terhadap SBN juga tetap terjaga. Bid to cover ratio investor asing untuk SUN tercatat sebesar 2,4 kali, sedangkan untuk SBSN mencapai 2,8 kali. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu. Pemerintah juga melakukan penerbitan SBN di pasar global pada Februari lalu melalui penerbitan obligasi dalam dua mata uang, yaitu renminbi (CNH) dan euro.
Di sisi lain, perkembangan pasar SBN masih dipengaruhi oleh dinamika global yang cukup volatile. Secara year-to-date, imbal hasil SBN tercatat meningkat sekitar 55 basis poin, yang turut mendorong pelebaran spread yield SBN terhadap US Treasury. Per 6 Maret 2026, spread SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury tercatat sekitar 243 basis poin sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kondisi pasar global.
“Posisi spread Indonesia masih berada pada level yang kompetitif. Pemerintah bersama BI, OJK, dan pihak terkait akan terus memantau perkembangan tersebut untuk memastikan stabilitas pasar keuangan domestik,” pungkas Wamenkeu.(*)
Related News
Kurangi Energi Fosil, Pemerintah Percepat Pemanfaatan EBT
Fitch Pertahankan Investment Grade PGN Di BBB-, Outlook Stabil
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp45.000 Per Gram
Pemerintah Tarik Utang Baru Rp185T, Setara 22 Persen Dari Target
GOTO Catat Pendapatan 2025 Naik 15 Persen, Pangkas Rugi Bersih
Periode Buyback CUAN Diakhiri Hari Ini, Rencana Awal 3 Mei 2026





