Satgas Saber Sidak RPH, Cegah Lonjakan Harga Daging Sapi
Satgas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan turun langsung ke Rumah Potong Hewan (RPH) Intisari 4, Tangerang Selatan, setelah muncul informasi rencana kenaikan harga daging sapi karkas.(Foto: Badan Pangan)
EmitenNews.com - Pemerintah bergerak cepat mencegah lonjakan harga daging sapi menjelang Ramadan. Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan turun langsung ke Rumah Potong Hewan (RPH) Intisari 4, Tangerang Selatan, setelah muncul informasi rencana kenaikan harga daging sapi karkas.
“Kami mengunjungi RPH Intisari 4 setelah menerima informasi terkait adanya rencana RPH ini menaikkan harga sebesar Rp1.000 per kilogram dengan alasan rekondisi sapi dan faktor lainnya. Namun setelah kami telusuri bersama, ternyata di tingkat feedloter tidak terjadi kenaikan harga,” ungkap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa saat di RPH Intisari 4 di Tangerang Selatan, Banten pada Minggu (1/2/2026).
Informasi adanya rencana kenaikan harga daging sapi dalam bentuk karkas tersebut dinilai Satgas Saber Pelanggaran Pangan perlu ditelusuri penyebabnya. Ini karena sebelumnya pemerintah bersama para pelaku usaha penggemukan sapi/kerbau bakalan (feedloter) sudah sepakat bahwa tidak ada kenaikan harga berat hidup sapi/kerbau bakalan jelang Ramadan dan Idulfitri.
"Kita minta RPH Intisari 4 segera melakukan penyesuaian dan tidak boleh menaikkan harga. Nah begitu di sini sudah menyesuaikan harga, (lalu) menurunkan harga kembali (seperti semula), maka pedagang lain pun tidak boleh menaikkan. Ini sebagaimana arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional agar masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan nyaman," tambah Ketut.
Deputi Ketut menggarisbawahi bahwa pasokan daging sapi/kerbau secara nasional masih mencukupi. Untuk itu, stabilisasi harga daging ruminansia bagi masyarakat harus terus terjaga agar tidak berfluktuasi. Ia memastikan ketersediaan daging ruminansia secara nasional mencukupi, baik dari produksi dalam negeri maupun pasokan dari pengadaan luar negeri.
Terkait itu, dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 6 Januari 2026, untuk status ketersediaan komoditas pangan pokok strategis masih mencukupi untuk tiga bulan ke depan di mana bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idulfitri.
Komoditas daging sapi/kerbau pun dipastikan masih cukup aman sampai Maret. Total ketersediaannya Januari sampai Maret 2026 ini dapat mencapai 185,4 ribu ton berasal dari stok awal tahun 41,6 ribu ton ditambah produksi dan hasil pemotongan sapi/kerbau bakalan di angka 125,2 ribu ton serta impor daging beku 18,5 ribu ton. Sementara angka konsumsi nasional berada di 179 ribu ton.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Suganda memastikan RPH Intisari 4 telah berkomitmen mengembalikan ke harga semula.
"Tadi sudah ditelusuri, ternyata memang akan segera dilakukan pengembalian harga ke harga normal, karena memang harga di tingkat feedloter sampai dengan Lebaran nanti, maksimal di Rp 55.000. Harga di tingkat feedloter saat ini masih normal, sehingga di RPH-nya juga harus dilakukan koreksi," ujar Dirjen Agung.
"Kami harapkan seluruh pedagang daging eceran di pasar-pasar tradisional agar menjaga stabilitas harga daging ke tataran normal, termasuk saya juga minta para pedagang di bawah APDI maupun juga JAPPDI untuk menjual harga daging sapinya di harga yang sudah ditetapkan sesuai harga acuan yang ditetapkan oleh Kepala Badan Pangan Nasional," kata Agung lagi.
Dirjen PKH Kementan Agung Suganda menegaskan tidak ada alasan terjadinya kenaikan harga daging sapi/kerbau, mengingat pemerintah telah memastikan ketersediaan pasokan sejak tahun sebelumnya. Bahkan dikatakannya, jumlah impor sapi/kerbau bakalan untuk swasta telah ditingkatkan.
"Tidak ada (alasan harga naik) karena kita sudah menghitung ketersediaan sapi kita. Sapi bakalan kita, baik yang impor maupun lokal, tercukupi. Kita hitung kebutuhannya juga cukup. Jadi tidak ada alasan untuk menaikan harga sapi bakalan maupun daging sapinya di Ramadhan ini," beber Agung.
"Dan ingat bahwa pemerintah sudah mengelontorkan untuk tahun 2026 (impor) sapi bakalan sebanyak 700 ribu ekor. Ini jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan sudah diberikan di akhir tahun 2025 kemarin," sebut dia lagi.
Adapun kuota impor sapi/kerbau bakalan untuk kebutuhan konsumsi di tahun 2026 ditetapkan sebanyak 700 ribu ekor dan diperuntukkan bagi pelaku usaha swasta. Ini diestimasikan setara dengan 189,7 ribu ton daging sapi/kerbau. Selain itu, pelaku usaha swasta juga diberikan alokasi impor daging lembu sejumlah 30 ribu ton.
Terakhir, pengelola RPH Intisari 4, Imron menyatakan komitmennya menarik rencana kenaikan harga yang ia umumkan sebelumnya dan mengembalikan ke harga semula. Ia mengajak pedagang daging sapi di pasaran untuk tidak melakukan kenaikan harga agar ada keseimbangan dalam rantai pasok daging sapi/kerbau.
“Saya dari pihak intisari 4 menarik semua kenaikan harga daging dan disesuaikan kembali ke harga semula. Dan tukang daging juga jangan sampai menaikkan harga dagingnya di pasar, biar seimbang semua,” ungkap Imron.(*)
Related News
Harga Emas Antam Meroket Rp167.000 Per Gram
Luhut Dukung Enam Langkah Pemerintah-OJK-BEI Reformasi Pasar Modal
Inilah Profil Jeffrey Hendrik, Pimpinan Sementara BEI
Permintaan Tinggi Angkat HPE Konsentrat Tembaga dan Emas
Dari 23 Subsektor Industri Pengolahan, 20 Di Fase Ekspansi
Bapanas Pastikan Ketersediaan Pangan Pokok Aman Hingga Maret





