EmitenNews.com - Mayoritas indeks Wall Street berakhir di zona merah. Indeks Nasdaq memimpin dengan melorot lebih dari 2 persen dan resmi masuk fase koreksi. Sentimen pasar tertekan lonjakan harga minyak akibat pasokan dari kawasan Timur Tengah, terutama Selat Hormuz.

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik 4,6 persen, dan Brent melonjak 5,7 persen, memperkuat kekhawatiran inflasi global. Ketidakpastian makin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran harus segera mencapai kesepakatan dengan AS atau menghadapi serangan lanjutan.

Pelemahan Wall Street terjadi juga seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun, dan 2 tahun. Kondisi itu, menekan minat investor pada aset berisiko. Sementara itu, data ekonomi menunjukkan klaim pengangguran mingguan AS naik tipis sesuai ekspektasi.

Itu merefleksikan pasar tenaga kerja masih stabil, dan memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga sambil memantau dampak konflik. Koreksi mayoritas indeks utama Wall Street seiring ketidakpastian global, dan aksi net sell jumbo asing diperkirakan menjadi sentimen negatif untuk pasar. 

So, indeks harga saham gabbungan (IHSG) diprediksi melanjutkan pelemahan. Sepanjang perdagangan hari ini, Jumat, 27 Maret 2026, indeks akan menyusuri kisaran support 7.080-7.000, dan resistance 7.245-7.323. Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan sejumlah saham berikut sebagai rujukan investasi.

Yaitu, Medco Energi Internasional (MEDC), Elnusa (ELSA), Mayora Indah (MYOR), Surya Semesta Internusa (SSIA), Surya Esa Perkasa alias Essa Industries (ESSA), dan Adaro Andalan Indonesia (AADI). (*)