EmitenNews.com - Pergerakan bursa saham kawasan Asia Pasifik bergerak bervariasi pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Indeks KOSPI Korea Selatan dan bursa saham China mencatatkan penguatan yang dipimpin oleh lonjakan emiten sektor teknologi, sementara Indeks Hang Seng Hong Kong justru merosot di tengah kehati-hatian investor global.

Dinamika pasar keuangan regional ini menjadi perhatian para pelaku pasar dan investor di Indonesia karena berpotensi memengaruhi arus modal ke pasar keuangan dalam negeri. Sentimen global terbagi antara optimisme terhadap proyeksi kecerdasan buatan (AI) serta kekhawatiran atas lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz.

Indeks Shanghai Composite naik tipis 0,1% ke level 3.935 dan Shenzhen Component menguat 0,8% ke level 14.372. Penguatan bursa China dipimpin oleh emiten teknologi seperti Eoptolink Technology yang naik 2,2% dan Zhongji Innolight sebesar 1,7%.

"Sentimen di sektor ini membaik setelah CoreWeave membukukan pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat dari perkiraan dan Super Micro Computer mengeluarkan perkiraan pendapatan yang optimis dan melebihi ekspektasi," tulis laporan Trading Economics, Rabu (12/8/2026).

Lonjakan paling signifikan terjadi pada Indeks KOSPI Korea Selatan yang melesat hampir 3% hingga mencapai posisi 6.530. Reli ini dipimpin oleh dua raksasa semikonduktor, yaitu Samsung Electronics yang melonjak lebih dari 4% dan SK Hynix yang menguat lebih dari 2%, seiring kuatnya permintaan global terkait AI.

Sebaliknya, Indeks Hang Seng Hong Kong tertekan dan melorot 1,0% atau berkurang 259 poin ke posisi 25.390. Penurunan bursa Hong Kong dipicu oleh melemahnya saham-saham raksasa teknologi seperti Tencent yang terkoreksi 2,3% dan Meituan yang juga melemah 2,3%.

Tekanan di Hong Kong terjadi seiring memudarnya harapan kesepakatan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak mentah AS hingga melampaui USD83 per barel. Selain itu, investor cenderung mengambil sikap waspada menantikan rilis data inflasi AS terbaru yang akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve pada September mendatang.(*)