Sempat ARB 10 Kali Beruntun, BEI Endus Gerak Tak Lazim
Ilustrasi tren harga tengah menurun (downtrends).
EmitenNews.com - Pergerakan saham Soraya Berjaya Indonesia (SPRE) masuk radar pengawasan Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah mengalami penurunan harga yang dinilai tidak lazim di pasar.
Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono, menyampaikan bahwa otoritas bursa telah menetapkan saham SPRE dalam status Unusual Market Activity (UMA).
Menurutnya, pengumuman UMA ini bukan serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan di bidang pasar modal.
“Pengumuman UMA ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal,” ujar Yulianto dalam keterangan tertulis, Jumat (6/3).
BEI juga menyebutkan bahwa informasi terakhir terkait emiten tersebut adalah keterbukaan informasi pada 27 Februari 2026 yang dipublikasikan melalui situs resmi bursa mengenai volatilitas transaksi saham.
Berdasarkan data EmitenNews.com, saham SPRE terpantau pada awal Februari sempat mengalami tekanan panjang harga saham sejak 2 Februari hingga 13 Februari 2026. Dalam periode itu, harga bergerak menurun dari Rp356 hingga Rp128, tercatat dalam reli bearish kala itu telah mencatat ditutup 10 kali Auto-Rejection Bawah (ARB) berturut-turut.
Tekanan terus berlanjut, hingga akhirnya masuk radar UMA BEI, pada perdagangan Senin (9/3), saham SPRE ambles sedalam 9,20 persen membentur ARB ke level Rp79 per saham.
Dalam sepekan terakhir, saham emiten ini tertekan lebih dari 21 persen, sedangkan dalam sebulan terkoreksi sangat dalam 62,15 persen dari harga Rp214 menjadi Rp79 mencerminkan tekanan jual yang cukup kuat.
Bursa pun meminta investor untuk lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan investasi. Investor diimbau memperhatikan jawaban klarifikasi dari pihak perusahaan, mencermati setiap keterbukaan informasi, serta menelaah kembali rencana aksi korporasi yang belum memperoleh persetujuan RUPS.
“BEI juga menyarankan investor untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan investasi,” tutup Yulianto.
Related News
INET dan Huawei Teken Kerja Sama Strategis Digital Terintegrasi
Pendapatan Stagnan, Laba Temas (TMAS) Terempas 25,86 Persen
Penjualan Susut, Laba ULTJ Melonjak 19,46 Persen
Pangkas Muatan, Pengendali Ini Divestasi Jutaan Saham DPUM
Drop 41 Persen, MCOL 2025 Catat Laba USD66,68 Juta
Performa Loyo, TP Rachmat Buang Jutaan Saham ESSA





