EmitenNews.com - Pelaksana Tugas (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik angkat suara terkait wacana pembukaan kembali kode broker secara langsung atau real-time. Isu tersebut mencuat di tengah agenda reformasi integritas dan transparansi pasar modal yang tengah digulirkan otoritas.

Jeffrey menyatakan bahwa pembukaan kode broker bukan hal yang tertutup untuk dibahas, meski hingga kini belum menjadi prioritas utama bursa.

“Tentu kalau ditanya apakah mungkin, tentu tidak ada hal yang tidak mungkin ya, Tetapi kami melihat prioritas,” ujar Jeffrey Hendrik di Gedung BEI, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Menurut Jeffrey, fokus utama BEI bersama otoritas saat ini masih diarahkan pada peningkatan transparansi kepemilikan saham emiten agar dapat diketahui publik secara lebih jelas.

“Prioritas kita bersama-sama saat ini adalah terkait dengan bagaimana kita mengungkap atau meningkatkan transparansi untuk pemegang saham ya yang perlu diketahui oleh publik secara lebih clear. Untuk yang lain tentu itu akan kami pertimbangkan untuk lain waktu,” lanjut Jeffrey.

Senada dengan pernyataan tersebut, praktisi pendiri Republik Investor sekaligus pengamat pasar modal Hendra Wardana mengatakan kepada EmitenNews.com pada Selasa (10/2/2026) bahwa wacana pembukaan kode broker real-time tetap relevan dan patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya memperkuat transparansi pasar. 

Ia menekankan bahwa keterbukaan informasi merupakan fondasi utama bagi terciptanya kepercayaan investor.

“Wacana dibukanya kembali kode broker secara real-time sejatinya patut diapresiasi sebagai langkah progresif menuju pasar modal yang lebih transparan. Pasar saham pada dasarnya hidup dari kepercayaan, dan kepercayaan hanya tumbuh ketika informasi tersedia secara adil bagi seluruh pelaku pasar,” ujar Hendra Wardana. 

Dalam perspektif pasar modal, Hendra menilai keterbukaan kode broker bukan dimaksudkan untuk mengarahkan perilaku investor, melainkan menyediakan data yang memadai agar keputusan investasi dapat diambil secara rasional. 

Ia menampik peran bursa seharusnya berada pada penyediaan infrastruktur dan informasi, bukan menentukan strategi investor.

Lebih lanjut, Hendra menyoroti bahwa keterbatasan akses terhadap data transaksi real-time selama ini justru memperlebar asimetri informasi, terutama antara investor besar dan investor ritel. Kondisi tersebut berpotensi membuat mekanisme pembentukan harga menjadi kurang efisien.

“Dengan membuka kembali kode broker secara real-time, mekanisme price discovery dapat berjalan lebih sehat karena pelaku pasar bisa menilai apakah pergerakan harga didorong oleh akumulasi, distribusi, atau hanya volatilitas jangka pendek,” terang Hendra.

Ia juga menilai kekhawatiran terkait potensi herd behavior tidak semestinya dibebankan pada keterbukaan data, melainkan pada literasi dan kedewasaan investor. Menurutnya, di banyak pasar negara maju, transparansi justru menjadi basis utama pengawasan dan kredibilitas bursa.

Hendra berpandangan keterbukaan data transaksi akan memperkuat daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor institusi global. (*)