EmitenNews.com - Penerapan kembali mekanisme perdagangan short selling di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai 1 Oktober 2026, diperkirakan menjadi salah satu sentimen perdagangan hari ini.

Senior Technical Analyst, M Nafan Aji Gusta mengatakan, secara teknikal IHSG masih memiliki ruang untuk mengalami recovery dari permulaan wave (X). Peluang tersebut tercermin dari indikator Relative Strength Index (RSI) yang telah berada dalam kondisi extremely oversold.

"Secara teknikal, adapun pergerakan IHSG akan memiliki ruang untuk recovery dari permulaan wave (X) mengingat indikator RSI sudah sangat jenuh jual atau extremely oversold," ujar Nafan dalam risetnya, Kamis (1/10).

Meski demikian, indikator Stochastics K_D masih menunjukkan sinyal negatif, sedangkan volume perdagangan mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat sentimen IHSG pada perdagangan Kamis cenderung mixed dengan kecenderungan defensif, sehingga volatilitas diperkirakan masih tinggi.

IHSG pada perdagangan Rabu (30/9) ditutup koreksi 0,83% ke level 6.071,138, di mana sepanjang perdagangan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp1,56 triliun.

Nafan mencatat level support IHSG berada di 6.016 dan 5.851, sementara resistance berada di 6.180 dan 6.332.

Meskipun demikian, IHSG telah terkoreksi sekitar 7,95% sepanjang September 2026. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya technical rebound seiring memasuki Oktober atau yang kerap disebut October Effect.

"Namun dengan IHSG yang sudah terkoreksi sekitar 7,95% sepanjang September ini, peluang room for a recovery atau technical rebound dalam menyambut October Effect tetap terbuka," kata Nafan.

Short Selling Jadi Perhatian

Nafan mengatakan penerapan mekanisme short selling di BEI mulai 1 Oktober berpotensi meningkatkan dinamika perdagangan dan volatilitas, terutama pada saham yang memenuhi kriteria transaksi tersebut.