Sinyal Positif, Kepercayaan Investor Meningkat Dorong Penguatan IHSG
:
0
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. dok. Stockbit Snips.
EmitenNews.com - Sinyal positif menyala dari Bursa Efek Indonesia. Itu yang terbaca dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir, wujud atas meningkatnya kepercayaan investor terhadap arah reformasi pasar modal Indonesia.
Harus diakui di tengah ketidakpastian global, tren ini mencerminkan respons pasar yang kian konstruktif terhadap berbagai kebijakan yang digulirkan regulator berkaitan dengan reformasi pasar modal Indonesia. Kita tahu, Otoritas Jasa Keuangan mempercepat reformasi pasar modal untuk memperkuat integritas, transparansi, dan kepercayaan investor global, yang berdampak positif pada peningkatan IHSG.
Pada perdagangan Selasa (14/4/2026), IHSG menguat 1,91 persen ke level 7.642 pada sesi pagi. Dengan capaian tersebut, tren penguatan indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berlanjut dalam beberapa waktu terakhir.
Kemudian, IHSG pada Selasa sore juga ditutup menguat. Penguatan yang mengikuti bursa kawasan Asia itu, didorong ekspektasi pelaku pasar akan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Data yang ada menunjukkan, IHSG ditutup menguat 175,76 atau 2,34 persen ke posisi 7.675,95. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 17,96 poin atau 2,41 persen ke posisi 764,32.
Dalam penegasannya Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan, penguatan IHSG merupakan hasil dari reformasi pasar modal yang tengah dilakukan. Selain itu, pergerakan saham domestik dinilai mulai mengarah pada tingkat transparansi yang lebih tinggi dan semakin selaras dengan standar global.
Sejumlah kebijakan baru dirancang OJK untuk menjawab kekhawatiran pelaku pasar termasuk dari penyedia indeks global
Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, sejumlah kebijakan baru telah dirancang untuk menjawab kekhawatiran pelaku pasar, termasuk dari penyedia indeks global.
Itu mencakup peningkatan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen, keterbukaan data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, hingga kewajiban pelaporan Ultimate Beneficial Owner (UBO).
Semua kebijakan yang digulirkan tersebut diharapkan mampu memperkuat integritas dan akuntabilitas pasar modal Indonesia.
Senior Market Chartist Nafan Aji Gusta melihat bahwa respons positif pasar tidak lepas dari konsistensi reformasi yang dijalankan regulator. Ia mencontohkan keputusan FTSE Russell yang tetap menempatkan Indonesia dalam kategori secondary emerging market sebagai indikator kepercayaan global.
“FTSE Russell masih mempertahankan Indonesia di secondary emerging market. Ini menjadi langkah strategis yang menunjukkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal kita,” ujar Nafan dalam keterangannya, Selasa (14/4/2026).
Konsistensi dalam menjalankan reformasi menjadi faktor krusial. Jika kebijakan yang telah dirancang dapat diimplementasikan secara berkelanjutan, transparansi pasar akan semakin meningkat dan pada akhirnya memperkuat minat investor global. Kondisi ini penting untuk menjaga posisi Indonesia tetap berada di level emerging market, bahkan membuka peluang peningkatan status di masa depan. ***
Related News
Indonesia SIPF Rilis Consultation Paper, Bidik Payung Hukum Lebih Kuat
Selasa Sore IHSG Ditutup Menguat, Mari Cermati Faktor Pendorongnya
Hitung RBC Asuransi, OJK Sesuaikan dengan Metode Standar Global
Kenaikan Saham Sektor Energi, Dorong Penutupan IHSG MenguatÂ
15 Calon IPO Masuk Radar Bursa, Rencana Melantai di April-Juni 2026
BEI Depak 18 Emiten, Efektif 10 November 2026





