Tahun Lalu Angkasa Pura I Rugi Rp540 Miliar, Ini Biang Keroknya!
EmitenNews.com - Apes betul PT Angkasa Pura I (Persero). Pendapatan AP I anjlok 11,1 persen atau senilai Rp540 miliar. Nilai tersebut didapat dari kerugian pada 2020 lalu Rp3,90 triliun yang kemudian menjadi Rp3,38 triliun sepanjang tahun 2021. Biang kerok penurunan pendapatan itu adalah pandemi Covid-19, yang berimbas pada merosotnya jumlah penumpang, dan trafik perbangan.
Dalam keterangannya yang dikutip Kamis (3/3/2022), Direktur Kepatuhan Aset dan Pengadaan Angkasa Pura I, Israwadi mengatakan penurunan pendapatan terjadi seiring dengan merosotnya jumlah penumpang dan penerbangan. Pandemi Covid-19 menjadi penyebab terganggunya bisnis BUMN operator bandara itu.
“Pada 2021 ekspektasi seharusnya rebound (bangkit), pulih, namun varian delta dan terakhir omicron, menutup tahun dengan traffic lebih turun lagi menjadi hanya 28,5 juta penumpang," katanya.
Penurunan penumpang terbesar terjadi pertama kali pada 2020. Penumpang yang dilayani ketika itu merosot sampai 60 persen menjadi 32,8 juta penumpang. Sebelum pandemi Covid-19, perseroan tersebut masih melayani 81,5 juta penumpang pada 2019.
Berkurangnya trafik penerbangan, dan berkurangnya jumlah penumpang itu, jelas berdampak pada pendapatan perseroan. Pada 2019, pendapatan AP I mencapai Rp8,7 triliun.
Israwadi mengaku kecewa dengan penurunan penumpang dan trafic penerbangan pada tahun lalu. Berkaca dari pandangan ahli, ia mengira tahun 2021 akan menjadi tahun pemulihan industri penerbangan.
"Kata pengamat, 2021-2023 adalah tahun pemulihan. Namun, ternyata pada 2021 lalu tidak mengikuti apa yang diproyeksikan," katanya.
Untuk memperbaiki kinerja dan pendapatan, perseroan akan menjalankan 4 agenda transformasi. Pertama, business turnaround. Menurut Israwadi, masa pandemi Covid-19 memaksa manajemen melakukan perubahan model business dan proses bisnis.
Kedua, perubahan organisasi dengan cara perampingan, termasuk perubahan budaya kerja. Ketiga, restrukturisasi finansial untuk mengajukan relaksasi terhadap pinjaman perusahaan.
Keempat, digitalisasi dari proses bisnis dengan mengintegrasikan sistem kerja lebih otomatis dan berbasis teknologi.
"Ini hal penting yang harus kita terapkan di masa pandemi Covid-19 ini," kata Israwadi. ***
Related News
Purbaya: Lewat Batas, Anggaran Tak Terpakai, Kita Tarik atau Hangus!
Jelang Tutup Tahun, DJP Rilis Sudah 11 Juta WP Aktivasi Coretax
Harga Emas Antam Hari ini Tetap di Rp2.501.000 per Gram
Ekonom: Perlu Evaluasi Ulang Kebijakan Sebelum Implementasi B50
Menteri Rosan Ungkap, Realisasi Investasi 2025 Tembus Rp1.905 Triliun
BI Rate 2025 vs 2024, Bagaimana Arah Kebijakan Bank Indonesia di 2026?





