Tepis Tawaran Pinjaman, Purbaya Bilang Begini ke IMF dan Bank Dunia
:
0
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dok. Tribunnews.
EmitenNews.com - Kondisi fiskal Indonesia masih relatif kuat. Masuk akal kalau Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.
Di depan IMF dan Bank Dunia, Purbaya menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia mampu mencetak pertumbuhan 5,4-6 persen pada 2026 meski di tengah ketegangan global yang sedang berlangsung.
aya mengemukakan hal tersebut kepada wartawan, di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Selasa (21/4/2026).
“Saya bilang sekarang saya belum butuh pinjaman. Indonesia masih punya persediaan hampir USD25 miliar, setara Rp428,77 triliun dengan kurs Rp17.150,” kata Purbaya.
Tawaran pinjaman itu diberikan saat Purbaya menghadiri rangkaian Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional dan Grup Bank Dunia (IMF-World Bank Spring Meeting) pada 13-17 April di Washington DC, Amerika Serikat.
Di depan IMF dan Bank Dunia, Purbaya menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia mampu mencetak pertumbuhan 5,4-6 persen pada 2026. Ia meyakini hal itu bisa dicapai, meski di tengah ketegangan global yang sedang berlangsung akibat perang yang disulut Amerika bersama Israel terhadap Irang.
Purbaya telah menyampaikan apresiasi atas penawaran pinjaman oleh kedua lembaga internasional itu. Namun, Menkeu menjamin kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini masih memadai dan belum membutuhkan dukungan.
“Jadi, kondisi keuangan kita masih aman,” tutur mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan tersebut.
Sebelumnya, IMF memuji Indonesia sebagai salah satu titik cerah atau bright spot dalam perekonomian global. IMF mengapresiasi kebijakan yang kredibel serta langkah-langkah lain yang dilakukan Indonesia dalam menjaga stabilitas perekonomian.
Pemerintah Indonesia mengambil manuver strategi dengan mengubah arah kebijakan fiskal sejak akhir tahun lalu, yang dampaknya sudah mulai terlihat pada perekonomian saat ini. Perubahan strategi itu juga membuat Indonesia memiliki kemampuan merespons tekanan lebih baik, termasuk ketika harga minyak dunia melambung tinggi. ***
Related News
Pekan Depan Uji Jalan B50 Pada Kereta Api, ESDM Pasang Target Ini
Ini Alasan Khusus Pertamina-Toyota Bangun Pabrik Bioetanol di Lampung
Nilai Tukar Yuan Hari Ini Berbalik Menguat Terhadap Dolar AS
Astra Graphia (ASGR) Bidik Ekspansi Di Layanan TI Pada 2026
Harga Emas Antam Selasa Ini Naik Rp40.000 per Gram
Kunci Level Rp17.168, Bagaimana Rupiah Hari Ini?





