Terbitkan Obligasi Hijau, Ini Upaya Arkora Hydro (ARKO) Genjot Energi Ramah Lingkungan
Ilustrasi aktivitas PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). dok. EmitenNews.
EmitenNews.com - Terus menggenjot energi ramah lingkungan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), akan melakukan penghimpunan dana melalui penerbitan Obligasi ramah lingkungan (Green Bond). Obligasi hijau ini merupakan upaya emiten pemegang proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLMTH) itu, dalam mendukung sustainability ataupun keberlanjutan kehidupan manusia serta mendorong tingkat kemakmuran.
Dalam keterangannya yang dikutip Minggu (16/7/2023), Direktur Utama ARKO, Aldo Henry Artoko mengatakan, Green Bond merupakan upaya ARKO dalam mendukung sustainability ataupun keberlanjutan kehidupan manusia serta mendorong tingkat kemakmuran ataupun prosperity.
“Masyarakat dapat turut serta bersama ARKO dengan menjadi investor Green Bond untuk mendorong terciptanya pola bisnis berkelanjutan di dalam negeri," kata Aldo Henry Artoko.
Nantinya penerbitan Green Bond ini dilakukan perusahaan dalam tiga seri, dengan tenor masing-masing satu tahun, tiga tahun dan lima tahun. Meski begitu besar kupon Green Bond masih belum ditentukan hingga saat ini.
Perusahaan berencana membuka periode penawaran awal atau book building dalam penerbitan obligasi itu, pada 7 Juli sampai 21 Juli 2023. Targetnya, Green Bond ARKO dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Agustus 2023.
Bagusnya, Aldo menegaskan obligasi yang akan diterbitkan ini memiliki aspek risiko yang relatif terjaga. Lihat saja, peringkat obligasi berada pada idA(pg) - (single A - partially guaranteed). Menurut dia, hal ini menunjukkan kemampuan kuat ARKO untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya.
Presiden Direktur PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) Reynaldi Hermansjah menyambut dengan sangat baik obligasi yang akan diterbitkan perusahaan. Dengan adanya upaya tersebut ia berharap dapat terwujud inklusi keuangan hijau di Indonesia.
"Kami sangat senang dan optimistis bahwa Obligasi yang diterbitkan oleh ARKO akan mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat" ungkap Reynaldi.
Ke depan, harapannya ekosistem keuangan hijau di Indonesia dapat semakin solid di tengah meningkatnya isu lingkungan saat ini. Hal tersebut sejalan dengan salah satu misi IIF untuk berkontribusi dalam mengembangkan sekaligus memperkaya instrumen investasi di Pasar Modal Indonesia yang sustainable based. ***
Related News
Laba Emiten Jasa Konstruksi NRCA Melonjak 115 Persen Sepanjang 2025
Emiten Furnitur Chitose (CINT) Raih Lonjakan Penjualan dan Laba 2025
TP Rachmat Jual 14,3 Juta Saham ESSA Senilai Rp10,8M, Harga Ikut Drop!
WINS Hentikan Buyback 2 Bulan Lebih Cepat, Ini Alasan Utamanya
RMKE Tutup 2025 dengan Kinerja Solid
Austindo (ANJT) Tunda Laporan Keuangan 2025, Audit Masih Berjalan





