EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup susut 0,78 persen menjadi 6.172. Investor cenderung hati-hati menjelang rebalancing indeks FTSE, dan pengumuman MSCI.  Rupiah ditutup menguat 0,16 persen menjadi Rp17.710 per dolar Amerika Serikat (USD), setelah Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI Rate.

Secara teknikal, Stochastic RSI masih berada di area overbought, namun MACD masih membentuk histogram positif. IHSG masih berada di atas level MA5, MA10, dan MA20. Sehingga diperkirakan IHSG cenderung berkonsolidasi pada kisaran level 6.100-6.250. Sesuai perkiraan, Rapat Dewan Guberur (RDG) Bank Indonesia menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,75 persen.

Lompatan BI Rate itu, sebagai upaya Bank Indonesia untuk mendukung stabilisasi Rupiah, dan meredam inflasi. Menyusul kebijakan itu, secara total Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga 100 bps, dan menempatkan BI Rate pada level tertinggi sejak April 2025.

Bank Indonesia masih menargetkan kisaran inflasi tahun ini pada level 1,5-3,5 persen, dan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,9-5,7 persen YoY. Sementara itu, tingkat pertumbuhan kredit meningkat 11,51 persen YoY edisi Mei 2026, berakselerasi dari April 2026 di level 9,98 persen YoY. Itu pertumbuhan kredit tahunan tercepat sejak Juli 2024.

Hasil tersebut terutama didukung kredit investasi 21,95 persen, kredit modal kerja 8,09 persen, dan kredit konsumer 5,89 persen. Bank Indonesia masih memperkirakan pertumbuhan kredit akan tetap pada kisaran 8-12 persen tahun 2026.

MSCI Market Accessibility Review memberi penilaian terperinci tentang aksesibilitas pasar untuk setiap pasar ekuitas termasuk dalam Indeks MSCI, dan mengevaluasi lima kriteria aksesibilitas pasar. Yaitu keterbukaan terhadap kepemilikan asing, kemudahan arus masuk dan keluar modal, efisiensi kerangka kerja operasional, ketersediaan instrumen investasi, stabilitas kerangka kerja kelembagaan.

MSCI menggunakan 18 pendekatan berbeda untuk menilai lima kriteria tersebut. Nah, dari 18 pendekatan tersebut, Indonesia masih memerlukan perbaikan adalah foreign exchange market liberalization level, dan information flow. Dan, MSCI tidak menggeser posisi indonesia dari emerging market.

Menilik data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para investor untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Barito Pacific (BRPT), Indah Kiat (INKP), Petrosea (PTRO), Raharja Cepu (RATU), dan Merdeka Copper Gold (MDKA). (*)