EmitenNews.com - Investasi negara seharusnya dilakukan dengan standar kehati-hatian yang jauh lebih tinggi  dibanding investasi biasa. Ketika pemerintah atau perusahaan milik negara menempatkan  dana pada suatu entitas bisnis, keputusan tersebut tidak hanya dinilai dari potensi  keuntungan, tetapi juga dari konsistensi kebijakan, tata kelola, dan keberpihakan terhadap  kepentingan publik. 

Karena itu, ketika muncul wacana bahwa Danantara berpotensi masuk ke saham GOTO, publik langsung mengingat satu fakta penting: negara sebenarnya sudah pernah masuk ke GOTO melalui TLKM, dan hasilnya justru meninggalkan kerugian investasi yang besar. 

Masalahnya, luka investasi tersebut bahkan belum benar-benar hilang dari ingatan pasar. Harga saham GOTO masih jauh dari ekspektasi awal saat euforia teknologi begitu tinggi. Di sisi lain, pemerintah kini kembali dikaitkan dengan kemungkinan masuk ke perusahaan yang sama, tetapi dengan narasi yang berbeda.  

Jika dulu investasi TLKM dibungkus dengan semangat transformasi digital dan penguatan  ekosistem teknologi nasional, kini muncul narasi bahwa keterlibatan negara bertujuan  membantu menurunkan potongan atau tarif yang dikenakan kepada mitra pengemudi. 

Narasi  baru ini memang terdengar lebih populis dan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat kecil. Namun justru di situlah persoalannya. Publik mulai bertanya: apakah negara sedang melakukan investasi bisnis yang rasional, atau sedang mencoba menyelesaikan persoalan sosial melalui mekanisme pasar modal? 

Dan jika alasan masuknya negara terus berubah-ubah, bagaimana publik bisa yakin bahwa keputusan tersebut benar-benar dibangun di atas pertimbangan ekonomi yang sehat? 

TLKM (Telkom) dan Euforia Investasi Teknologi 

Ketika TLKM masuk ke GOTO beberapa tahun lalu, keputusan tersebut dipresentasikan  sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi digital. Pada  masa itu, perusahaan teknologi dipandang sebagai masa depan ekonomi nasional. Valuasi  startup melonjak tinggi, investor berlomba-lomba masuk, dan optimisme terhadap  pertumbuhan sektor digital berada di puncaknya. 

TLKM melalui Telkomsel ikut mengambil posisi di GOTO dengan harapan dapat menciptakan sinergi besar antara infrastruktur telekomunikasi dan layanan digital. Narasi yang dibangun sangat kuat: negara tidak boleh tertinggal dalam revolusi digital, dan BUMN harus menjadi bagian dari transformasi ekonomi masa depan. 

Namun pasar akhirnya berbicara dengan cara yang berbeda. Setelah IPO, saham GOTO  justru mengalami tekanan berkepanjangan. Valuasi yang sebelumnya dianggap wajar  perlahan dipertanyakan. Investor mulai kembali melihat fundamental bisnis secara lebih realistis.