Tol Cimanggis Cibitung Kerek Laba BNBR 50 Persen, Bakal Bagi Dividen?
:
0
Tol Cimanggis Cibitung Kerek Laba BNBR 50 Persen, Bakal Bagi Dividen? Dok. Kumparan
EmitenNews.com - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sukses mencuri perhatian pasar usai merilis laporan keuangan tahun buku 2025. Perseroan mencetak lonjakan Laba Bersih yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk sebesar 50,7 persen menjadi Rp493,85 miliar, dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp327,59 miliar.
Namun ada sebuah anomali yang perlu diperhatikan di balik kenaikan labanya. Ternyata, lonjakan laba bersih ini terjadi di tengah penurunan pendapatan. Sepanjang 2025, pendapatan bersih BNBR justru turun tipis menjadi Rp3,74 triliun dari sebelumnya Rp3,86 triliun. Lantas, dari mana asal muasal laba setengah triliun rupiah tersebut?
Bongkar Kualitas Laba BNBR
Saat ditelusuri ke dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (CaLK) tahun 2025, tepatnya pada bagian kombinasi bisnis, terungkap bahwa motor utama pendongkrak laba perseroan bukanlah dari hasil jualan baja atau bus listrik, melainkan dari aturan akuntansi.
Pada November 2025, BNBR melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia, mengakuisisi 72 juta saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dari PT Waskita Toll Road dan PT SMI. Sebelum akuisisi ini terjadi, BNBR sebenarnya sudah memiliki kepemilikan minoritas sebesar 10 persen di CCT.
Sesuai standar akuntansi yang berlaku, ketika sebuah perusahaan mengambil alih kendali penuh atas suatu aset, mereka diwajibkan untuk menilai ulang (revaluasi) nilai saham minoritas yang sudah mereka miliki sebelumnya, agar sesuai dengan harga wajar di pasar saat ini. Hasil dari revaluasi inilah yang memunculkan pos "Keuntungan dari pengukuran kembali atas kepentingan ekuitas" sebesar Rp422,37 miliar di laporan laba rugi perseroan.
Laba Buku vs Uang Tunai
Sebagai analogi sederhana, bayangkan Anda membeli sebidang tanah sepuluh tahun lalu seharga Rp100 juta. Hari ini, Anda membeli tanah di sebelahnya, sehingga Anda menguasai seluruh area. Akuntan kemudian menilai bahwa tanah lama Anda kini harga pasarnya sudah naik menjadi Rp500 juta. Kenaikan nilai sebesar Rp400 juta tersebut dicatat sebagai "keuntungan" di pembukuan tahun ini. Namun faktanya, Anda tidak menerima uang tunai sepeser pun karena tanah tersebut tidak dijual.
Hal inilah yang terjadi pada BNBR. Keuntungan Rp422,37 miliar tersebut adalah laba di atas kertas (laba buku), bukan kas riil dari operasional bisnis.
Jika BNBR Untung, Peluang Dividennya Gimana?
Laporan keuangan ini memberikan reality check yang penting bagi investor ritel. Laba bersih yang meroket memang merupakan indikator bahwa manuver ekspansi perseroan di sektor jalan tol berjalan agresif. Namun sebagai investor, kita harus menahan ekspektasi terkait pembagian dividen. Keuntungan yang bersifat angka di atas kertas tidak dapat dibagikan sebagai dividen tunai, terlebih perseroan masih membutuhkan likuiditas untuk membiayai operasional proyek tol Cimanggis Cibitung ke depannya.
Disclaimer: artikel ini merupakan analisis berbasis data publik sebagai bentuk edukasi, bukan rekomendasi investasi.
Related News
VKTR & Indomobil Jalin Sinergi Senyap, Bakrie-Salim Kuasai Sektor EV?
BNBR Kecipratan Cuan Bangkitnya BUMI Berkat Sinergi Salim-Bakrie
BUMI Dikendalikan Mach Energy Salim-Bakrie, Fokus Ekspansi Bergeser
BEI Delisting Saham, Realita Pahit Jadi Investor Nyangkut Part 2
BEI Delisting Saham, Realita Pahit Jadi Investor Nyangkut Part 1
Saham INCO Melesat di Saat Harga Nikel Stagnan, Apa Rahasianya?





