Transformasi, Pendapatan GIAA Melejit 13,2 Persen Kuartal III 2026
:
0
Tampak seseorang melintas di depan kantor Garuda Indonesia. Foto - Dok CNBC
EmitenNews.com - Garuda Indonesia (GIAA) mempertahankan momentum pertumbuhan pendapatan di tengah tekanan biaya bahan bakar masih membayangi industri penerbangan. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Garuda Indonesia Group membukukan pendapatan konsolidasi USD2,71 miliar, tumbuh 13,2 persen secara tahunan atau meningkat USD316,4 juta dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan perkembangan positif dari agenda transformasi bisnis tengah dijalankan perseroan, ditopang pertumbuhan pendapatan layanan penerbangan berjadwal, meningkatnya kontribusi bisnis non-penerbangan, pemulihan kapasitas, dan keandalan operasional.
Nah, dari sisi komposisi pendapatan, bisnis penerbangan berjadwal masih menjadi kontributor utama pertumbuhan, dengan kenaikan 12,6 persen atau setara USD233,2 juta. Sementara itu, pendapatan penerbangan non-berjadwal meningkat 2,1 persen atau USD6,3 juta. Di luar bisnis penerbangan, pendapatan dari lini usaha non-penerbangan mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi, yakni 31,3 persen menjadi USD322,8 juta, atau meningkat USD77 juta secara tahunan.
Perkembangan itu, mengindikasikan makin besar potensi diversifikasi bisnis Grup dalam memperluas sumber pertumbuhan pendapatan. Kinerja tersebut dicapai di tengah tekanan biaya industri masih signifikan, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar penerbangan seiring volatilitas pasar energi global, dan dinamika geopolitik di Timur Tengah. Sepanjang periode pelaporan, beban bahan bakar Grup meningkat 42,9 persen secara tahunan atau setara USD309,8 juta, sehingga turut mendorong kenaikan total beban operasional 15,7 persen.
Meski demikian, pertumbuhan beban operasional di luar bahan bakar dapat dijaga pada kisaran 3,1 persen, lebih rendah dibanding pertumbuhan pendapatan 13,2 persen. Kondisi itu, mencerminkan perkembangan positif dalam pengendalian biaya, dan peningkatan efisiensi operasional perseroan. Pada periode sama, Garuda Indonesia Group mencatatkan laba usaha USD97,2 juta, rugi periode berjalan grup secara konsolidasi menyusut 3,0 persen secara tahunan menjadi USD179,3 juta.
Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan pendapatan, dan disiplin pengelolaan biaya mulai memberi kontribusi terhadap perbaikan kinerja, meski tekanan biaya bahan bakar masih menjadi tantangan dalam upaya pemulihan profitabilitas secara berkelanjutan.
Diversifikasi Pendapatan Perkuat Sumber Pertumbuhan Grup
Sejalan agenda transformasi, Garuda Indonesia Group terus mengoptimalkan potensi bisnis non-penerbangan sebagai salah satu sumber pertumbuhan, sekaligus memperkuat kontribusi seluruh entitas usaha dalam ekosistem bisnis grup. Pertumbuhan pendapatan non-penerbangan 31,3 persen antara lain ditopang peningkatan pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal GMF AeroAsia sebesar 42,4 persen, dan kenaikan pendapatan layanan agen perjalanan 76,1 persen.
Perkembangan itu, mencerminkan makin besar peluang komersial kapabilitas bisnis grup, sekaligus memperkuat upaya diversifikasi pendapatan untuk melengkapi kontribusi bisnis penerbangan penumpang. Perkembangan kinerja hingga September 2026 itu, memberi indikasi positif terhadap arah transformasi, khususnya dalam memperkuat produktivitas, dan mengoptimalkan potensi bisnis seluruh grup.
“Keberlanjutan pertumbuhan Garuda Indonesia memerlukan fondasi bisnis penerbangan makin kuat, sekaligus kontribusi lebih besar dari seluruh ekosistem usaha grup. Lompatan pendapatan bisnis non-penerbangan mencerminkan potensi pengembangan kapabilitas, dan sinergi antarentitas usaha terus kami optimalkan sebagai bagian dari transformasi, guna memperkuat ketahanan bisnis, dan mendukung pemulihan kinerja keuangan secara berkelanjutan,” tutur Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro.
Related News
Laba Emiten Aguan Melejit 39 Persen, ini Pendorongnya
Tembus Rekor! Pendapatan PRDA Sentuh Rp1,71 Triliun
Operasional Kuat, Laba INCO Meroket 180,55 Persen
Chandra Asri (TPIA) Lunasi Obligasi Rp266,95 Miliar
Pendapatan Hampir Rp3T, Laba Bersih WIFI Sentuh Rp478,22M di Q3-2026
Pendapatan Rp14,14T, Laba Bersih CBUT Melonjak 424% hingga Q3-2026





