Tuyul Saham Mengubah Portofolio Saham Blue Chip Jadi Gorengan
:
0
Ilustrasi sosok makhluk halus Tuyul. (Foto:Dok/Pinterest)
EmitenNews.com -Tuyul merupakan makhluk mitologi di Jawa yang berwujud anak kecil yang suka mencuri uang. Dalam kehidupan sehari-hari perilaku tuyul bisa disamakan dengan manusia yang suka mencuri dengan diam-diam. Belakang ini Saya sering mendapatkan telepon yang mengaku sebagai petugas BPJS Kesehatan, Bank, bahkan Bursa Efek Indonesia.
Tidak hanya melalui telepon, tapi juga aplikasi WhatsApp, Telegram, Email, bahkan media sosial. Biasanya oknum ini akan memberikan link website atau mengajak bicara yang tujuannya untuk memperoleh data pribadi. Data pribadi ini dapat berupa Nomor Induk Kependudukan (NIK), tempat dan tanggal lahir, foto wajah, password, pin, salinan cetak rekening baik tabungan atau koran dan lainnya.
Aksi pembobolan rekening di perbankan dilakukan oleh pelaku secara langsung dengan cara mengakses rekening korban yang diperoleh dari data pribadi yang telah dikumpulkan oleh pelakunya. Hasil kejahatannya akan ditransfer pelaku ke rekeningnya atau dalam bentuk pembayaran yang menyulitkan untuk dilacak.
Pembayaran yang dilakukan bisa untuk pembayaran belanja online, cicilan kendaraan, dan lainnya. Pelaku biasanya menggunakan nomor pribadi dan perlu diingat bahwa perusahaan tidak pernah menghubungi nasabah dengan menggunakan nomor pribadi kecuali telah diberikan tahukan oleh perusahaan.
Pembobolan rekening saham mempunyai cara yang berbeda dengan ada yang di perbankan akan tetapi untuk pengumpulan data pribadi hampir sama dengan di perbankan. Aksi pembobolan rekening saham Saya ketahui dari curhatan seorang investor di media sosial yang disediakan oleh salah satu sekuritas Indonesia. Curhatan tersebut berisi mengenai akunnya yang terkena pembajakan oleh pelaku pembobolan. Pelaku melakukan penjualan saham yang dipunyai oleh korban yang mencakup saham-saham blue chip.
Setelah menjual saham korban, pelaku lantas membelikannya dengan saham gorengan yang dimiliki oleh pelaku. Hasil penjualan saham gorengan inilah yang dinikmati oleh pelaku. Lalu kenapa tidak ditarik saja saldonya dengan mengganti rekening penarikan karena penggantian rekening penarikan akan sulit dilakukan oleh pelaku yang harus melakukan konfirmasi kepada perusahaan sekuritas dan mudah dilacak tindak kejahatannya.
Sementara itu dengan menjual portofolio yang dimiliki oleh korban dengan membelikan saham gorengan yang dimiliki oleh pelaku akan menyulitkan pelacakan dan proses hukum karena perusahaan perusahaan sekuritas akan mengira transaksi yang dilakukan merupakan transaksi yang sah oleh korban.
Terdapat beberapa tips yang perlu dilakukan untuk mencegah hal serupa terjadi kepada kita semua, diantaranya:
1. Hindari masuk grup konsultan saham atau grup investasi yang mencurigakan. Biasanya grup-grup ini ditemui di media sosial seperti telegram atau WhatsApp. Grup tersebut menerapkan member dengan iming-iming keuntungan yang besar. Sebelum masuk grup atau menjadi member biasanya calon korban akan diminta untuk memberikan data pribadi. Hal inilah yang menjadi titik awal terjadinya sebuah pembobolan. Selain data pribadi calon korban akan ditarik uang untuk biaya menjadi member. Apabila investor hendak bergabung dengan grup investasi atau saham, maka investor dapat bergabung dengan grup yang disediakan oleh sekuritas yang aman dan gratis. Selain itu dapat berkonsultasi dengan analisis yang telah berpengalaman dan bersertifikat dibandingkan dengan grup investasi atau konsultan investasi ilegal yang hanya pandai berbicara dan menipu.
2. Usahakan jangan mengeklik link website yang berasal dari email atau pesan lainnya. Tindakan mengakses link yang diberikan oleh pelaku akan mengarah investor pada website yang menyerupai website sekuritas aslinya namun dengan domain yang aneh dan tidak sesuai dengan aslinya. Pada website tersebut korban akan diminta untuk memberikan username, pin, dan password. Modus lainnya website tersebut malah mengakses perangkat korban melalui penginstalan aplikasi yang tidak dapat dilihat dalam tampilan dimana penginstalan tersebut dilakukan secara otomatis. Aplikasi akan memberikan akses bagi pelaku untuk mengakses perangkat korban dengan mengumpulkan data pribadi. Cara mencegahnya yaitu dengan cara tidak mengeklik link mencurigakan, website mencurigakan atau ilegal serta selalu melakukan scan anti virus secara berlaka.
Related News
Akar Masalah Joki Coretax
Sanksi Massal BEI: Penegakan Disiplin atau Compliance Semu?
Risiko PNM di bawah Kemenkeu
Kebijakan Bertubi-tubi Uji Kepercayaan Investor Pasar Modal RI
Dorong Swasta Investasi di Infrastruktur, Pemerintah Tak Perlu Modal
Menata Pengelolaan Risiko Denera





