Harga saham PACK per 2 Januari 2026 tercatat Rp2.060 atau melesat 1.171,6% dibandingkan harga perdana Rp162 pada 8 Februari 2023.

Perusahaan yang juga baru melaporkan kinerja keuangannya per 30 Juni 2025 mencatat aset Rp70,46 miliar dengan penurunan penjualan dari Rp29,5 miliar menjadi Rp20,5 miliar, namun labanya naik dari Rp1,29 miliar menjadi Rp2,62 miliar.

Terbaru, Abadi Hijau Investama bakal menjajakan right issue Rp3,25 triliun. Penerbitan saham baru untuk obligasi wajib konversi (OWK) berbalut nominal Rp10. Penerbitan 32,58 miliar saham itu, dibekali dengan harga pelaksanaan Rp100 per saham.

Bahtera Bumi Raya (PGJO)

Sama seperti PACK, Bahtera Bumi Raya merupakan hasil transformasi bisnis dari sebelumnya bernama PT Tourindo Guide Indonesia Tbk. Perubahan itu terjadi setelah perusahaan investasi asal Tiongkok Zheng Yuan Investment Pte. Ltd., melalui anak usaha PT Batu Investasi Indonesia (dulu bernama Zhengyu Global), mengambil alih 493.088.500 saham atau sekitar 61,69% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh PGJO.

Kabar itu telah tercium para investor mengingat kenaikan harga saham PGJO sudah terjadi pada Maret 2025 setelah sebelumnya laba bertengger dengan kisaran harga di bawah Rp50 hingga Rp90. Per 2 Januari 2026, harga saham PGJO telah menyentuh Rp1.010 atau melesat 1.162,5% dari harga perdana saat IPO 8 Januari 2020 Rp80.

Dari laporan keuangan, perseroan juga baru menyampaikan periode 30 Juni 2025 masih dengan menyandang nama Tourindo Guide. Saat itu, perusahaan mencatat total aset Rp4,8 miliar dengan pendapatan bersih trun dari Rp1,54 miliar jadi Rp314,7 juta dan ruginya membaik dari Rp2,5 miliar menjadi Rp1,93 miliar.

Adapun dalam pengumuman terbaru, saham PGJO diborong Batu Investasi Indonesia sebanyak 161,89 juta. Menyusul transaksi itu, koleksi saham Bahtera Bumi Raya dalam dekapan Batu Investasi makin menggelembung menjadi 654,98 juta helai alias 82,3%.

So, apakah kamu jadi salah satu pemegang saham-saham itu sejak IPO dan sudah meraup cuan melimpah? (*)