EmitenNews.com - Sentimen pasar saham Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Phintraco Sekuritas menyebut "Confidence is Returning to Indonesia" setelah IHSG menutup pekan lalu dengan penguatan sekitar 4,2% ke level 6.175,54 selama 13-17 Juli 2026.

"Rebound IHSG selama sepekan terakhir tidak hanya didorong oleh faktor teknikal, tetapi juga didukung oleh perbaikan sentimen makro domestik, penguatan, inflasi yang cenderung menurun, serta mulai kembalinya minat investor pada emiten berfundamental solid," kata Analis Phintraco Sekuritas, Desy Erawati dalam risetnya, Minggu (19/7/2026).

Penguatan IHSG ditopang apresiasi Rupiah 0,8% sepekan ke Rp17.921, kinerja sektor perbankan yang naik 3,85%, serta net buy asing sebesar Rp2,56 triliun. Big Banks seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI menjadi motor utama penguatan indeks pekan lalu.

Secara valuasi, P/E IHSG saat ini di 14,54x. Angka ini masih di bawah rata-rata 5 tahun sebesar 15,78x.

"Valuasi IHSG semakin menarik: PE 14.54x vs rata-rata 5 tahun 15.7x," ujar Desy. 

Katalis tambahan datang dari S&P yang mempertahankan rating Indonesia di level Investment Grade dengan Outlook Stabil, serta EIDO yang menguat 2,05% pada penutupan Jumat (17/7).

Untuk perdagangan pekan ini, Phintraco memproyeksikan IHSG berpeluang menguji area resistance 6.225 - 6.280. Sementara area support berada di 6.175 - 6.000.

"IHSG diperkirakan berpeluang melanjutkan penguatan dengan menguji area 6.225–6.280 seiring membaiknya struktur teknikal mingguan. Namun, setelah penguatan yang cukup signifikan dalam sepekan terakhir, peluang profit taking jangka pendek tetap perlu diwaspadai. Selama tekanan jual berlangsung sehat dan diikuti rotasi sektor yang positif, kecenderungan penguatan masih berpotensi berlanjut," jelas Desy.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia, rilis indikator ekonomi kunci, musim laporan keuangan, serta keberlanjutan arus dana asing sebagai konfirmasi arah pemulihan pasar.

Desy juga menyoroti beberapa risiko yang perlu diwaspadai, antara lain profit taking setelah reli yang cukup kuat, volatilitas saham teknologi global, kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed.