Manajemen Risiko Andal, BTN Panen Dua Pengakuan Global
:
0
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Nixon LP Napitupulu (kiri) bersama Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo (kanan) menunjukkan penghargaan ASEAN Risk Champion Award (Category 2) dan Risk Culture Award di Jakarta, Senin (20/7). FOTO - Dok BTN
EmitenNews.com - Bank Tabungan Negara (BBTN) kembali memperoleh pengakuan di tingkat regional atas keberhasilan transformasi manajemen risiko dengan meraih dua penghargaan bergengsi pada ASEAN Risk Awards 2026, yakni ASEAN Risk Champion Award (Category 2) dan Risk Culture Award. Penghargaan tersebut menjadi validasi bahwa transformasi manajemen risiko yang dijalankan BTN telah memenuhi praktik terbaik di tingkat ASEAN serta menjadi fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
ASEAN Risk Awards merupakan ajang penghargaan tingkat regional yang memberikan apresiasi kepada institusi keuangan di kawasan ASEAN atas keunggulan dalam penerapan manajemen risiko, tata kelola, budaya risiko, inovasi, serta ketahanan organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis yang terus berkembang. Keberhasilan BTN meraih dua penghargaan sekaligus mencerminkan pengakuan internasional atas komitmen Perseroan dalam membangun organisasi yang tangguh dengan manajemen risiko sebagai bagian integral dari strategi bisnis.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengatakan penghargaan tersebut merupakan pengakuan bahwa transformasi BTN dibangun di atas fondasi tata kelola dan manajemen risiko yang kuat.
“Penghargaan ini bukan sekadar apresiasi atas fungsi manajemen risiko, tetapi merupakan pengakuan bahwa transformasi BTN dibangun di atas fondasi tata kelola dan risk management yang kuat. Di tengah meningkatnya kompleksitas risiko global, mulai dari ketidakpastian ekonomi, volatilitas pasar keuangan, percepatan digitalisasi, hingga perubahan iklim, kami memastikan setiap keputusan bisnis selalu mempertimbangkan keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, kecukupan modal, likuiditas, dan keberlanjutan. Bagi BTN, manajemen risiko bukan hanya berfungsi sebagai pengendali, tetapi menjadi strategic enabler yang memungkinkan Perseroan tumbuh lebih sehat, adaptif, dan berkelanjutan,” ujar Setiyo di Jakarta, Minggu (19/7).
Menurut Setiyo, selama beberapa tahun terakhir BTN telah menjalankan transformasi manajemen risiko secara menyeluruh melalui roadmap yang terstruktur dan berbagai inisiatif strategis. Transformasi tersebut mencakup modernisasi proses bisnis kredit melalui Loan Factory, penguatan enterprise risk management, digitalisasi pemantauan risiko secara end-to-end, pemanfaatan data analytics dalam pengambilan keputusan, penguatan pengelolaan risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, teknologi informasi, hingga integrasi aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam kerangka manajemen risiko Perseroan.
Di saat yang sama, BTN juga terus memperkuat budaya risiko (risk culture) di seluruh jenjang organisasi melalui peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, penguatan governance, serta internalisasi prinsip kehati-hatian dalam setiap proses bisnis. Dengan demikian, pengelolaan risiko tidak hanya berada pada level kebijakan, tetapi menjadi bagian dari budaya kerja yang diterapkan secara konsisten oleh seluruh insan BTN.
“Risk culture merupakan fondasi penting bagi organisasi yang ingin tumbuh secara berkelanjutan. Ketika seluruh insan perusahaan memiliki kesadaran risiko yang kuat, maka organisasi akan lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan, lebih tangguh menghadapi tantangan, dan mampu menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas,” tambah Setiyo.
Transformasi tersebut terbukti memberikan dampak nyata terhadap kinerja Perseroan. Sepanjang Semester I/2026, BTN berhasil membukukan pertumbuhan bisnis sehat disertai peningkatan kualitas aset. Perseroan mencatatkan laba bersih konsolidasi Rp2,40 triliun atau tumbuh 40,8 persen secara tahunan dibanding periode sama tahun lalu Rp1,70 triliun. Penyaluran kredit dan pembiayaan meningkat 13,2 persen menjadi Rp418,11 triliun, sementara total aset tumbuh 8,5 persen menjadi Rp545,16 triliun.
Di sisi kualitas aset, disiplin dalam penerapan manajemen risiko mendorong perbaikan rasio Non-Performing Loan (NPL) menjadi 2,99 persen dari 3,30 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tetap menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 6,5 persen menjadi Rp398,73 triliun, mencerminkan kepercayaan masyarakat yang terus meningkat terhadap fundamental Perseroan.
Sejalan dengan transformasi BTN di bawah arahan Danantara Indonesia menuju bank beyond mortgage, penguatan manajemen risiko menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung perluasan model bisnis Perseroan. Dengan kerangka manajemen risiko yang semakin modern, digital, dan terintegrasi, BTN mampu mendukung ekspansi bisnis secara lebih sehat ke berbagai ekosistem, mulai dari pembiayaan perumahan, consumer banking, corporate banking, commercial banking, hingga pengembangan layanan keuangan berbasis ekosistem, tanpa mengesampingkan prinsip kehati-hatian.
Related News
IHSG Tembus 6.231, TPIA Naik 9 Persen saat Big Banks Kuasai Transaksi
IHSG Siang Ini Terbang ke Level 6.228, MLPT–PRDL Jadi Top Losers!
Mirae Asset Revisi Target IHSG 2026 ke 6.800 dari Semula 10.500
Saham SPCX Boncos 45 Persen, Hampir Semua Pembeli Rugi
Awal Pekan, IHSG Dibuka Melejit ke Level 6.200
Wall Street Drop, IHSG Lanjut Menguat





