EmitenNews.com - Perusahaan-perusahaan asal Tiongkok memainkan peran utama dalam pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy) di Indonesia. Kehadiran investor serta teknologi Tiongkok mendominasi skema tender yang digelar pemerintah untuk menanggulangi krisis sampah nasional.

Dominasi tersebut disampaikan oleh Fadli Rahman, CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara, perusahaan milik negara yang bertanggung jawab menjalankan proyek-proyek tersebut, dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (7/9/2026).

Berdasarkan laporan yang disiarkan kantor berita Xinhua, pemerintah Indonesia telah memperkenalkan dua putaran tender sejak akhir tahun lalu. Pada putaran pertama, terdapat 21 pengajuan untuk tiga proyek yang seluruhnya berasal dari perusahaan Tiongkok. Sementara pada putaran kedua, dari total 68 proposal untuk delapan proyek, sekitar 60% pengajuan disumbang oleh perusahaan Tiongkok.

"Perusahaan-perusahaan Tiongkok sangat aktif," kata Fadli.

Fadli menambahkan bahwa banyak perusahaan Tiongkok juga bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Indonesia untuk membentuk kemitraan yang disesuaikan dengan kebutuhan proyek di berbagai wilayah.

Pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi listrik ini difokuskan di 40 kota di Indonesia yang menghadapi krisis sampah, dengan target penyelesaian secara bertahap pada 2027–2028. Sejumlah proyek yang sudah memasuki tahap pembangunan antara lain berlokasi di Bali, Kota Bekasi, serta Legok Nangka di Jawa Barat.

Direktur Pengelolaan Limbah Kementerian Lingkungan Hidup, Melda Mardalina, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari strategi nasional yang mencakup pemisahan limbah di sumbernya, pengolahan limbah organik, hingga penggunaan teknologi seperti bahan bakar turunan limbah, biogas, dan pengomposan.

Langkah percepatan ini krusial bagi Indonesia. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, Indonesia saat ini menghasilkan sekitar 144.000 ton sampah per hari, tetapi baru sekitar 25% yang terkelola dengan baik. Pemerintah menargetkan seluruh sampah di tanah air dapat dikelola sepenuhnya pada 2029 dan tidak ada lagi sampah yang dibuang langsung ke lingkungan.(*)