EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kembali ditutup melemah. Itu seiring tekanan jual terhadap saham sektor teknologi, dan data sektor ketenagakerjaan melemah. Penurunan saham sektor teknologi itu sejala sikap investor cenderung menghindari aset berisiko (sektor teknologi sudah cukup mahal) dampak dari koreksi tajam harga bitcoin ke bawah level USD70 ribu.

Selain itu, investor kecewa terhadap proyeksi laporan keuangan ke depan. Salah satu emiten sektor teknologi kembali mencatat pelemahan cukup signifikan yaitu Qualcom anjlok 8,46 persen setelah melaporkan proyeksi laporan keuangan lebih rendah dari ekspektasi seiring kelangkaan memori komputer di pasar global. 

Sementara itu, data ketenagakerjaan dilaporkan jumlah pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang Januari 2026 tercatat 108.435, level tertinggi sejak krisis keuangan global. Klaim pengangguran mingguan berakhir 31 Januari 2026 juga naik lebih tinggi dari perkiraan. Di sisi lain pembukaan lapangan kerja pada Desember 2025 mencatat rekor terendah sejak September 2020.

Koreksi indeks bursa Wall Street, harga mayoritas komoditas, dan aksi jual investor asing berlanjut diprediksi menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, indeks diprediksi bergerak melanjutkan pelemahan dengan kisaran support 8.025-7.950, dan resistance 8.180-8.260.

Berdasar data dan fakta tersebut, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi ssejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Alfamart (AMRT), Unilever Indonesia (UNVR), Astra Group (ASII), Erajaya Swasembada (ERAA), Mayora Indah (MYOR), dan Indofood CBP (ICBP). (*)