EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kembali ditutup melemah. Itu seiring lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah, dan harga minyak mentah. Selain itu, koreksi saham semikonduktor juga turut menjadi tambahan katalis negatif pasar.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan tenor 30 tahun naik 3 bps menjadi 5,335 persen, level tertinggi sejak 2002. Untuk obligasi pemerintah dengan tenor 20 tahun dan 10 tahun juga masing-masing mencatat rekor tertinggi sejak 2006, dan 2007. Ledakan imbal hasil obligasi itu, dipicu asa kesepakatan damai AS dan Iran memudar.

Itu setelah gencatan senjata kedua belah pihak resmi berakhir tanpa kejelasan lebih lanjut. Kondisi tersebut juga membuat harga minyak mentah tetap berada di level cukup tinggi sehingga dikhawatirkan akan mendorong kenaikan inflasi, dan menggerus daya beli.

Koreksi indeks bursa Wall Street, dan aksi jual investor asing berlanjut diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Di sisi lain, lonjakan harga komoditas energi, dan crude palm oil (CPO) berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

Dengan demikian, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat. Sepanjang perdagangan hari ini, Rabu, 19 Agustus 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 6.400-6.350, dan resistance 6.500-6.550. Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham berikut.

Yaiut, London Sumatera Plantations alias Lonsum (LSIP), Dharma Satya Nusantara (DSNG), Triputra Agro Persada (TAPG), Harum Energy (HRUM), Adaro Andalan Indonesia (AADI), dan Bumi Resoures (BUMI). (*)