EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu kompak ditutup melemah. Itu seiring beralihnya aksi jual investor dari sektor teknologi ke sektor lain di tengah lonjakan harga minyak mentah. Itu dipicu kekhawatiran akan kembali terjadinya konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Emiten konstituen Dow Jones membukukan pelemahan cukup signifikan. Salah satunya American Express terkoreksi 3,68 persen setelah perseroan menyatakan akan memangkas jumlah pekerja global sebanyak 5 persen sebagai antisipasi penggunaan AI. Emiten lain ikut membukukan pelemahan di antaranya Caterpillar 2,42 persen, dan Goldman Sachs 1,75 persen.

Sementara itu, harga minyak mentah untuk jenis WTI naik 3,8 persen menjadi USD103.27 per barel, dan Brent menguat 3,1 persen menjadi USD116.72 per barel. Kenaikan itu, terjadi setelah adanya laporan AS dan Israel tengah mempersiapkan untuk kembali menyerang Iran.

Iran juga menyatakan akan menyerang balik keduanya serangan benar-benar direalisasikan. Pelemahan indeks bursa Wall Street, aksi jual investor asing berlanjut dalam jumlah cukup besar, dan koreksi harga komoditas mineral logam diprediksi menjadi sentimen negatif di pasar.

Di sisi lain, musim laporan keuangan emiten kuartal III 2026, buyback emiten, komitmen Danantara, dan beberapa pihak masuk pasar berpeluang menjadi katalis positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 5.360-5.280, dan resistance 5.520-5.600.

Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan investor untuk mengoleksi sejumlah saham berikut. Yaitu, BTPN Syariah (BTPS), Mitra Adiperkasa (MAPI), Telkom (TLKM), XLSmart (EXCL), Aneka Tambang alias Antam (ANTM), dan Timah (TINS). (*)