EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,54 persen menjad 6.094. Itu terjadi di tengah katalis positif minim. Sebaliknya, sentimen negatif datang bertubi-tubi menghantam IHSG. Secara teknikal, IHSG telah menutup gap 6.092. 

Kalau tekanan jual berlanjut, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis 6.000. Support kuat berikutnya level 5.882. Saat situasi eksternal kurang kondusif karena konflik Timur Tengah berkepanjangan. Kondisi tersebut diperparah dengan penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak mentah meroket lebih awet dari perkiraan.

Pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan. Sayangnya, kebijakan tersebut mendapat respons negatif investor. Paslanya, kebijakan tersebut dinilai berdampak negatif terhadap iklim investasi dalam jangka pendek. Berbgam kebijakan baru pemerintah itu, untuk meningkatkan pendapatan dalam menutup defisit APBN.

Sementara itu, rebalancing FTSE dan MSCI juga berpotensi masih akan menjadi faktor negatif membayangi pergerakan IHSG. Saham perbankan diperkirakan akan tertekan menyusul pernyataan Fitch Ratings, peringkat jangka panjang bank Himbara sangat dipengaruhi dukungan pemerintah.

Fitch menyatakan peringkat bank Himbara berada pada level sama dengan peringkat Indonesia yaitu BBB/Negatif. Itu mencerminkan potensi kurangnya kemampuan Pemerintah dalam memberi dukungan kepada perbankan jika tekanan fiskal meningkat. Sedang S&P Global Ratings menyatakan rencana Indonesia memusatkan ekspor komoditas berpotensi merugikan ekspor.

Pasalnya, rencana tersebut dapat menekan pendapatan negara, dan berdampak terhadap neraca pembayaran. So, Phintraco Sekuritas masih mencermati saham tambang BUMN, dan mewaspadai risiko tekanan lanjutan pada saham tambang non-BUMN.

Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor mengoleksi saham HM Sampoerna (HMSP), Indofood (INDF), Timah (TINS), Wismilak (WIIM), dan Charoen Pokphand (CPIN). (*)