EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia merosot tajam pada Jumat (2/10) seiring beredarnya laporan bahwa negara-negara Eropa sedang mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak darurat secara terkoordinasi. Isu intervensi pasar tersebut dipicu oleh tekanan dari pemerintah Amerika Serikat guna meredakan krisis bahan bakar global.

Minyak mentah acuan West Texas Intermediate turun 3,78 persen ke level USD89,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Brent anjlok 2,46 persen hingga diperdagangkan di level USD99,79 per barel, atau kembali jatuh ke bawah ambang psikologis USD100.

Komisioner Energi Eropa Dan Jørgensen mengonfirmasi adanya rencana diskusi pelepasan cadangan strategis tersebut bersama para anggota Badan Energi Internasional (IEA). Kami sedang berdiskusi dengan semua anggota Badan Energi Internasional, tidak hanya Amerika Serikat, mengenai waktu yang tepat untuk merilisnya, karena ini adalah salah satu peluang yang kami miliki, ujar Dan Jørgensen kepada Euronews pada Jumat (2/10).

Dan Jørgensen menambahkan bahwa langkah intervensi tersebut pernah dilakukan sebelumnya dan memiliki kemungkinan besar untuk diterapkan kembali guna mengekang kenaikan harga bahan bakar global. Komisi Eropa juga dilaporkan telah mengadakan rapat koordinasi bersama beberapa negara, termasuk Inggris, pada Kamis (1/10).

Tekanan dari Washington meningkat lantaran lonjakan harga minyak mentah dan pengetatan pasokan diesel global sejak September lalu. Menteri Energi AS Chris Wright mendesak sekutu Eropa untuk memenuhi komitmen pelepasan stok petroleum guna menstabilkan harga energi dunia.

Penurunan harga minyak mentah internasional ini memberikan angin segar bagi kestabilan harga energi di pasar domestik Indonesia. Penurunan harga minyak dunia berpotensi mengurangi beban subsidi energi serta menahan tekanan inflasi akibat impor komoditas minyak dan bahan bakar.(*)