Yield Obligasi AS Naik, Jepang Turun, RI Waspada
:
0
Perbedaan arah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Jepang pada Selasa (14/7/2026) memicu kekhawatiran pasar keuangan global.(Ilustrasi: Skorlife)
EmitenNews.com - Perbedaan arah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Jepang pada Selasa (14/7/2026) memicu kekhawatiran pasar keuangan global, termasuk potensi tekanan modal keluar dari pasar surat utang Indonesia.
Berdasarkan data Trading Economics, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun bertahan tinggi di kisaran 4,62 persen, mendekati level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk kembali memblokir kapal-kapal Iran di Selat Hormuz. Langkah tersebut mengerek harga minyak mentah secara tajam dan memicu kekhawatiran baru terkait inflasi global serta arah suku bunga The Fed.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sebesar 51 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga acuan pada September mendatang, di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.
Sebaliknya, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun justru melorot ke level 2,75 persen pada Selasa. Penurunan ini terjadi setelah Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menyatakan bahwa dana pensiun raksasa negara tersebut akan menyesuaikan kepemilikannya jika diperlukan. Langkah ini meredakan spekulasi pasar mengenai dukungan jangka pendek terhadap aset-aset domestik Jepang.
Obligasi Jepang sendiri terus berada di bawah tekanan jual akibat kekhawatiran rencana ekspansi fiskal senilai lebih dari 370 triliun Yen hingga tahun fiskal 2040 di bawah pemerintahan Takaichi.
Bagi pasar keuangan Indonesia, melebarnya selisih (spread) antara yield obligasi AS (US Treasury) dan Surat Berharga Negara (SBN) dapat menjadi sentimen negatif. Tingginya yield obligasi AS berpotensi memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor cenderung memilih aset aman (safe haven) yang memberikan imbal hasil tinggi di Amerika Serikat. Kondisi ini berisiko menekan nilai tukar Rupiah serta memaksa yield SBN domestik merangkak naik untuk tetap menjaga daya tarik bagi investor asing.(*)
Related News
Blokade Hormuz Trump Picu Harga Gas Eropa Terbang Tinggi
S&P Afirmasi Rating RI, Bukti Arah Kebijakan Pemerintah Dipercaya
Harga Emas Dunia Turun Akibat Eskalasi Ketegangan di Selat Hormuz
Harga Minyak Melonjak Imbas Trump Blokade Selat Hormuz
Rambah Ibu Kota, Bank Kalteng Buka Kantor Layanan Pemasaran di Jakarta
Pajak Marketplace, BDO di Indonesia Dorong Korporasi Perkuat Mitigasi





