Airlangga: Impor Mesin Melesat, Sinyal Produksi Geliat
:
0
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Ekon)
EmitenNews.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa tingginya porsi impor bahan baku dan barang modal menjadi sinyal kuat menguatnya aktivitas produksi serta investasi di dalam negeri. Ia menilai struktur impor yang didominasi kebutuhan industri mengonfirmasi arah pemulihan sektor manufaktur nasional.
Berdasarkan data laporan makroekonomi terbaru, struktur impor Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 didominasi oleh bahan baku/penolong senilai USD 97,95 miliar dan barang modal senilai USD 27,36 miliar. Gabungan kedua kategori ini mencakup hingga 91,3 persen dari total keseluruhan impor nasional, sementara porsi barang konsumsi hanya sebesar 8,7 persen.
Kenaikan impor barang modal secara spesifik didorong oleh masuknya mesin dan peralatan mekanis yang tumbuh 17,43 persen, serta mesin dan perlengkapan elektrik yang melesat 19,63 persen.
Menko Airlangga menegaskan bahwa komposisi impor yang berfokus pada barang modal dan bahan baku merupakan indikator positif bagi keberlanjutan sektor riil.
"Tingginya impor mesin/peralatan mekanis dan mesin/perlengkapan elektrik mengindikasikan menguatnya aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri, yang menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan geliat industri manufaktur ke depan," ujar Menko Airlangga di Jakarta.
Geliat produksi tersebut sejalan dengan kinerja Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali menembus zona ekspansi di level 50,2 pada Juli 2026, membalikkan posisi dari level 46,9 pada bulan sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh menguatnya pesanan baru yang memicu kenaikan output pabrik untuk pertama kalinya sejak Februari 2026.
Sinyal pemulihan industri ini juga ditunjukkan oleh keputusan pelaku usaha yang mulai menambah jumlah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir, guna merespons penumpukan pekerjaan (backlog) dan lonjakan permintaan domestik.
Guna menjaga kelancaran pasokan input produksi di tengah dinamika geopolitik global, pemerintah memperkuat langkah mitigasi risiko imported inflation. Langkah tersebut ditempuh melalui pemberian insentif penurunan biaya input produksi, termasuk pembebasan bea masuk impor LPG industri, bahan baku plastik, serta suku cadang pesawat.(*)
Related News
Sinyal Damai Selat Hormuz Tekan Harga Minyak di Kisaran USD80
Langkah Cerdas Hadapi Risiko Ketidakpatuhan PMK 44/2026 di Era Digital
Program 3 Juta Rumah, Jamkrindo Jamin Pembiayaan Rp50,34 Triliun
Harga Batu Bara Acuan Periode I Agustus 2026, Naik Tiga Kategori
Impor Migas Melonjak, Juni 2026 Defisit USD0,45 Miliar
Juli Terjadi Deflasi Sebesar 0,14 Persen





