Alarm Ekonomi Jepang: Devisa Menyusut, Konsumsi Anjlok 3,3 Persen
:
0
Cadangan devisa Jepang menyusut sebesar USD0,38 miliar hingga menyentuh level terendah dalam 16 bulan terakhir sebesar USD1,287 triliun pada akhir Juli 2026. (Foto: Dominik Photography)
EmitenNews.com - Cadangan devisa Jepang menyusut sebesar USD0,38 miliar hingga menyentuh level terendah dalam 16 bulan terakhir sebesar USD1,287 triliun pada akhir Juli 2026. Tekanan ekonomi tersebut makin diperberat oleh anjloknya pengeluaran rumah tangga warga Jepang sebesar 3,3 persen secara tahunan pada Juni 2026.
Berdasarkan data yang dirilis Trading Economics, kombinasi penurunan devisa dan konsumsi domestik ini menjadi indikator penting bagi pergerakan ekonomi kawasan Asia, termasuk terhadap dinamika pasar dan mitra dagang utama seperti Indonesia.
Secara rincian, total cadangan devisa luar negeri Jepang berada di angka USD1,090 triliun, yang mencakup sekuritas senilai USD927,33 miliar dan deposito sebesar USD162,29 miliar.
Dari total deposito tersebut, sebanyak USD161,85 miliar tersimpan di bank sentral asing dan Bank for International Settlements (BIS). Sementara itu, simpanan di bank yang berkantor pusat di Jepang berjumlah USD407 juta, serta simpanan di bank di luar Jepang tercatat sebesar USD25 juta.
Laporan Trading Economics juga mencatat posisi cadangan IMF Jepang berada di angka USD11,38 miliar, hak tarik khusus (SDR) senilai USD60,73 miliar, serta cadangan emas sebesar USD109,52 miliar. Aset cadangan lainnya tercatat USD15,86 miliar dan aset mata uang asing lainnya mencapai USD33,92 miliar.
Di sisi konsumsi, kontraksi 3,3 persen pada pengeluaran rumah tangga Juni 2026 ini berbanding terbalik dari perkiraan pasar yang memproyeksikan kenaikan 1,0 persen. Penurunan ini menjadi kontraksi tujuh bulan berturut-turut sekaligus yang tertajam dalam siklus saat ini.
Pelemahan terjadi pada sektor makanan yang turun 2,5 persen, utilitas susut 7,1 persen, barang rumah tangga terperosok 11,4 persen, pakaian anjlok 19,9 persen, serta transportasi dan komunikasi turun 5,7 persen. Pertumbuhan pengeluaran kesehatan dan pendidikan juga melambat masing-masing menjadi 1,4 persen dan 20,6 persen.
Secara bulanan yang disesuaikan secara musiman, pengeluaran rumah tangga Jepang merosot 6,4 persen. Angka ini membalikkan pertumbuhan 3,7 persen pada bulan Mei sekaligus mencatatkan penurunan bulanan paling dalam sejak Januari 2021.(*)
Related News
Konflik Hormuz Sulut Inflasi, Harga Emas Tahan Diri
Investasi AI Melesat, The Fed Waspadai Risiko Sistemik
Bendung Industri Chip China, AS Kenakan Tarif Polisilikon 15%
Syarat Iran di Hormuz Ketat, Harga Minyak Mentah Melonjak
Pembukaan Hormuz Tekan Imbal Hasil Obligasi AS dan Jepang
Setelah Tiga Tahun, MSCI Cabut Perlakuan Khusus Indeks Bangladesh





