EmitenNews.com - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa mendorong percepatan tindak lanjut kerja sama investasi fosfat antara PT Pupuk Indonesia dan perusahaan fosfat Aljazair, Somiphos. Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkuat pasokan bahan baku pupuk serta menjaga ketahanan pangan nasional Indonesia.

Dorongan tersebut disampaikan Wamentan Saleh saat bertemu Duta Besar RI untuk Aljazair, Yusron Bahauddin Ambary, di Jakarta pada Kamis (15/10/2026). Pemerintah mengupayakan penyepakatan perjanjian studi bersama (joint study agreement) sebagai tahap awal menuju kajian investasi yang lebih konkret.

"Harapannya, kita bisa sampai pada joint study agreement," kata Saleh dalam keterangannya.

Saleh menjelaskan bahwa studi bersama diperlukan untuk memperjelas ruang lingkup kerja sama dan mengkaji peluang investasi kedua belah pihak. Meski demikian, rencana investasi penambangan dan pengolahan ini masih membutuhkan pembahasan lanjutan dan belum memasuki tahap pembangunan fisik.

Dalam kesempatan yang sama, Dubes RI untuk Aljazair Yusron Bahauddin Ambary mengungkapkan bahwa Pemerintah Aljazair memberikan prioritas bagi BUMN maupun swasta Indonesia untuk berinvestasi di sektor fosfat negara tersebut.

"Pemerintah Aljazair mengundang pengusaha Indonesia, baik BUMN maupun swasta, untuk berinvestasi, terutama di sektor fosfat. Mereka juga menyampaikan bahwa investor Indonesia akan mendapatkan prioritas," ujar Yusron.

Yusron menambahkan, Aljazair menargetkan produksi fosfat mencapai 10 juta ton per tahun. Hal ini menjadi peluang besar bagi industri pupuk Indonesia untuk mengamankan pasokan bahan baku jangka panjang.

Inisiatif kerja sama ini merupakan kelanjutan dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Pupuk Indonesia dan Somiphos pada Selasa (20/1/2026). Diversifikasi pasokan fosfat dari Aljazair diharapkan dapat memperkuat rantai pasok bahan baku dan menjamin ketersediaan pupuk bagi petani di Indonesia.(*)