Angkasa Pura (APAI) Siap Bayar Utang Pakai Sumber ini
:
0
Sumber Foto : SindoNews
EmitenNews.com - PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau APAI bersiap melunasi sejumlah instrumen surat utang yang dijadwalkan jatuh tempo pada bulan mendatang. Berdasarkan data pemeringkat efek yang dirilis pada Rabu (21/10/2026), pelunasan ini mencakup obligasi serta sukuk ijarah korporasi.
Berdasarkan laporan pemeringkatan efek per 21 Oktober 2026, instrumen surat utang PT Angkasa Pura Indonesia yang akan jatuh tempo tercatat jatuh pada tanggal 22 November 2026. Instrumen tersebut terdiri dari Obligasi Berkelanjutan I Angkasa Pura I Tahap I Tahun 2016 Seri C dengan peringkat idAAA sebesar Rp1,025 miliar.
Selain obligasi tersebut, instrumen lain yang turut jatuh tempo pada tanggal yang sama adalah Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Angkasa Pura I Tahap I Tahun 2016 Seri C dengan peringkat idAAA(sy) sebesar Rp96 miliar. Kedua instrumen pendanaan ini telah dipersiapkan mekanisme pelunasannya oleh pihak manajemen perusahaan.
Untuk memenuhi kewajiban finansial tersebut, PT Angkasa Pura Indonesia telah menyiapkan strategi pendanaan yang matang. Sumber dana pelunasan utang ini berasal dari kas internal serta hasil penerbitan instrumen keuangan sebelumnya yang dikelola secara profesional oleh perseroan.
Perusahaan merencanakan penggunaan dana dari Sukuk Wakalah Bi Al-Istitsmar Angkasa Pura I Tahun 2023 untuk menutupi kewajiban tersebut. Di samping itu, perusahaan juga mengandalkan alokasi Dana Ijarah hasil Penerbitan Sukuk Wakalah Bi Al-Istitsmar Injourney Tahun 2024.
Ketersediaan dana tersebut telah tercermin secara transparan dalam posisi kas dan setara kas perseroan yang tercatat mencapai Rp6,9 triliun per 30 Juni 2026. Besarnya posisi kas ini memberikan ruang likuiditas yang sangat memadai bagi perseroan dalam menyelesaikan kewajiban jatuh temponya.
Manajemen PT Angkasa Pura Indonesia turut menyiapkan opsi pendanaan cadangan sebagai langkah antisipasi operasional. Dana internal perusahaan dapat digunakan sebagai alternatif sumber pembiayaan apabila Dana Ijarah dari hasil penerbitan Injourney 2024 dialokasikan untuk keperluan korporasi lainnya.
Bagi pasar keuangan dan industri domestik di Indonesia, ketepatan waktu pelunasan kewajiban surat utang oleh Badan Usaha Milik Negara di sektor kebandarudaraan ini sangat krusial. Hal tersebut mencerminkan likuiditas yang kuat serta menjaga kepercayaan investor terhadap iklim investasi infrastruktur nasional.(*)
Related News
MBSS Mulai Eksekusi Buyback Rp200 Miliar
PPGL Siapkan Saham Bonus, Rasio 6:4, Intip Rinciannya!
Aset Gendut, Laba GUNA Kuartal III Melejit 19 Persen
Terpangkas 57 Persen, Laba PJAA Tersisa Segini
Kuartal III, Laba Emiten Sarung Tangan Medis Melambung 160,4 Persen
Jawab Isu Delisting, Presdir Bank CIMB Niaga (BNGA) Ungkap Ini





