EmitenNews.com - Emiten PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) atau ANTAM menorehkan kinerja positif pada Semester I 2026 (1H26). Emiten pelat merah ini membukukan laba periode berjalan sebesar Rp6,91 triliun.

Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto mengatakan capaian laba tersebut tumbuh 34% dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai Rp5,14 triliun.

“Di tengah dinamika industri dan pasar, ANTAM terus memperkuat kualitas fundamental melalui perbaikan cash generation , disiplin pengelolaan modal kerja, serta posisi likuiditas yang tetap terjaga,’ kata Untung dalam keterbukaan informasi yang dipublikasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (28/8/2026).

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM, Arini Kasmira menyatakan dengan kinerja profitabilitas yang tetap solid secara year-on-year, fokus ANTAM adalah memastikan kinerja tersebut dapat dikonversikan menjadi arus kas yang sehat dan berkelanjutan.

 Untuk itu, ANTAM terus memperkuat disiplin pengelolaan modal kerja dan persediaan, cash conversion , serta alokasi modal secara prudent.

 “Didukung posisi likuiditas yang tetap terjaga dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi, ANTAM memasuki paruh kedua 2026 dengan fundamental yang kokoh serta fleksibilitas keuangan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan operasional, mendukung agenda pertumbuhan, dan menciptakan nilai jangka panjang secara berkelanjutan,” kata Arini.

Emas Sumbang 80%

Produk emas menjadi kontributor terbesar penjualan ANTAM dengan proporsi 80% terhadap total penjualan ANTAM pada 1H2 6. Penjualan emas tumbuh 1% menjadi Rp50,39 triliun, dari Rp 49,68 triliun pada 1 H25.

Melalui penguatan strategi pemasaran domestik, volume penjualan emas pada 1H26 mencapai sebesar 18.080 kg (581.286 troy oz.). Sementara produksi emas dari tambang Perusahaan pada 1H26 sebesar 433 kg (13.921 troy oz.).

ANTAM terus memperkuat pengelolaan persediaan emas secara disiplin dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar, strategi pengadaan dan pricing, serta efisiensi penggunaan modal kerja. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan produk, perputaran persediaan, dan likuiditas Perusahaan.