Australia Juga Tak Terduga Catat Defisit Perdagangan Mei 2026
:
0
Australia secara tak terduga mencatatkan defisit perdagangan sebesar AUD 3,02 miliar pada Mei 2026, bergeser dari surplus AUD 1,38 miliar.(Foto: DHL)
EmitenNews.com - Australia secara tak terduga mencatatkan defisit perdagangan sebesar AUD 3,02 miliar pada Mei 2026, bergeser dari surplus AUD 1,38 miliar yang direvisi turun pada bulan sebelumnya. Angka ini meleset dari ekspektasi pasar yang memperkirakan surplus AUD 2,2 miliar. Angka ini menjadi defisit perdagangan terbesar Australia sejak Desember 2015.
Kondisi yang terjadi di Australia ini mirip dengan yang dihadapi Indonesia. Indonesia juga mengalami tekanan neraca dagang pada Mei 2026. BPS mencatat defisit USD 1,61 miliar, berbalik dari surplus USD 4,30 miliar pada Mei 2025. Penyebabnya ekspor turun 5,73% yoy ke USD 23,20 miliar, sementara impor naik 22,16% yoy ke USD 24,81 miliar.
Ekspor Turun, Impor Naik
Data Trading Economics menunjukkan penurunan ekspor menjadi pemicu utama defisit Australia. Ekspor barang turun 6,9% secara bulanan menjadi AUD 43,61 miliar pada Mei 2026, dari kenaikan 7,2% pada April. Penurunan itu membalikkan tren dan membawa ekspor ke level terendah empat bulan.
“Ekspor turun 6,9% secara bulanan ke level terendah empat bulan sebesar AUD 43,61 miliar, membalikkan kenaikan 7,2% pada bulan April, terutama terbebani oleh emas dan bijih logam serta mineral non-moneter,” tulis Trading Economics.
Sementara itu, impor Australia tumbuh 2,6% secara bulanan menjadi AUD 45,46 miliar, naik dari kenaikan 0,2% pada April. Peningkatan impor mencerminkan permintaan domestik yang lebih kuat.
Impor barang Australia bahkan mencapai rekor baru sebesar AUD 46,63 miliar pada Mei 2026. Kenaikan didorong barang modal yang naik 8,2% menjadi AUD 10,86 miliar dan barang konsumsi yang meningkat 7,9% menjadi AUD 13,29 miliar. Impor emas non-moneter justru anjlok 27,9% menjadi AUD 1,77 miliar.
Sama seperti Australia, defisit Indonesia dipengaruhi pelemahan ekspor komoditas dan penguatan impor. Di Indonesia, impor energi dan bahan baku industri menjadi kontributor utama kenaikan impor.
Defisit perdagangan dapat memengaruhi nilai tukar dan neraca berjalan. Di Indonesia, rupiah melemah ke kisaran Rp17.800-Rp17.900 per USD setelah data Mei dirilis. Bank Indonesia BI kemudian menjaga stabilitas melalui intervensi dan suku bunga 5,25%.
Baik Australia maupun Indonesia menghadapi tantangan eksternal serupa, mulai dari harga komoditas yang berfluktuasi hingga permintaan global yang melemah. Perbedaan struktur ekonomi membuat respons kebijakan berbeda, namun arah tekanan neraca dagang pada Mei 2026 menunjukkan kesamaan pola.(*)
Related News
Saham China Anjlok Akibat Aksi Jual Masal Sektor Teknologi
Saham Jepang Anjlok Dipicu Aksi Jual Sektor Teknologi
Pasokan Melimpah, Harga Minyak Turun Sentuh USD68 per Barel
Inflasi Korea Selatan Capai Level Tertinggi Dalam 30 Bulan
Surplus Selama 72 Bulan, Neraca Dagang RI Defisit Memasuki Mei 2026
Rupiah Tetap Anteng, Tak Goyang Karena Defisit





