Bagai Langit dan Bumi, Outlook Vietnam dan RI Berdasarkan Moody's
:
0
Suasana kota Jakarta yang selama ini menjadi salah satu sumber perputaran ekonomi di Indonesia. Foto: Emitennews
EmitenNews.com - Lembaga pemeringkat global Moody’s meningkatkan outlook Vietnam menjadi positif dari stabil pada Senin (4/5/2026). Sedangkan kondisi Indonesia justru sebaliknya. Pada Februari 2026 outlook Indonesia dari stabil justru menjadi negatif.
Vietnam peringkatnya naik karena meningkatnya kepercayaan terhadap kemampuan negara tersebut untuk memperkuat profil kreditnya dalam jangka menengah. Moody’s menegaskan peringkat Ba2 Vietnam sambil mencatat bahwa kualitas institusional dan tata kelola negara tersebut telah menunjukkan perbaikan berkat reformasi yang diterapkan sejak akhir 2024.
Moody’s juga sebagaimana dikutip Investing.com, Senin (4/5/20260, mengatakan risiko penurunan dari langkah-langkah perdagangan AS telah berkurang dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya.
Sedangkan pada Februari 2026, Moody’s Ratings telah mengubah outlook Indonesia menjadi negatif dari stabil sambil mengukuhkan peringkat Baa2, dengan menyebutkan berkurangnya prediktabilitas dalam pembuatan kebijakan yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan.
Moody’S menyatakan kala itu perubahan outlook mencerminkan melemahnya tata kelola yang dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah mapan, yang selama ini mendukung pertumbuhan ekonomi yang solid dan stabilitas makroekonomi.
Meskipun outlook berubah, Moody’s mengukuhkan peringkat Baa2 Indonesia berdasarkan ketahanan ekonomi negara tersebut, didukung oleh kekayaan sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan yang berkontribusi pada potensi pertumbuhan jangka menengah sekitar 5%.
Lembaga tersebut mencatat bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang hati-hati telah menghasilkan stabilitas makroekonomi, yang tetap menjadi asumsi dasar utama yang mendukung peringkat saat ini.
Selama setahun terakhir, berkurangnya prediktabilitas kebijakan dan komunikasi yang kurang efektif telah meningkatkan risiko terhadap kredibilitas Indonesia di kalangan investor, tercermin dalam volatilitas pasar ekuitas dan valuta asing yang lebih besar.
Moody’s menyoroti bahwa peningkatan fokus Indonesia pada penggunaan belanja publik untuk mendorong pertumbuhan menimbulkan risiko fiskal, terutama mengingat basis pendapatan negara yang lemah. Pemerintah telah memperluas program sosial, termasuk inisiatif Makanan Bergizi Gratis dan Perumahan Terjangkau, yang telah didanai melalui pemotongan pengeluaran di berbagai kementerian.
Pembentukan Danantara, dana kekayaan negara baru Indonesia dengan kewenangan atas aset badan usaha milik negara yang melebihi $900 miliar (sekitar 60% dari PDB nominal 2025), telah menimbulkan ketidakpastian mengenai pembiayaan, tata kelola, dan prioritas investasi.
Sementara itu, pada bulan April, FTSE Russell mengumumkan akan meningkatkan Vietnam menjadi status pasar berkembang dari status pasar frontier pada bulan September, menempatkan negara tersebut bersama pasar seperti India dan China. Peningkatan ini menyusul reformasi yang ramah pasar oleh negara Asia Tenggara tersebut.
Related News
Tanggapi Presiden, Bagi UMKM Kemudahan Akses Pembiayaan Lebih Utama
Kunjungan Turis China Meningkat, Masih di Bawah Malaysia dan Australia
Tunggu Hasil Audit Proses Restitusi dari BPKP, Purbaya Kejar WP Nakal
Kabar Baik, SKK Migas Temukan Potensi 13 Sumur Migas Baru di Kutai
2025 Laba Bersih IIF Tumbuh 51 Persen, 2026 Diversifikasi Sumber Dana
Permintaan Pascalebaran Normal, Inflasi April Melandai ke 0,13 Persen





