EmitenNews.com - Pergerakan pasar saham beberapa waktu terakhir dipengaruhi berbagai sentimen eksternal. Mulai dari ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi, hingga arah kebijakan suku bunga global. Menyusul kondisi seperti ini, investor menitiberatkan perhatian pada aspek fundamental emiten dengan bisnis kuat, neraca sehat, dan kemampuan menghasilkan arus kas secara konsisten.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Suryawijaya, mengungkapkan kontraksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat penurunan mayoritas harga saham di Bursa Efek Indonesia merupakan dampak sentiment negatif jangka pendek. ”Selain faktor geopolitik, dan kenaikan harga minyak global, di dalam negeri saat ini terlalu banyak informasi negatif belum tentu kebenarannya sehingga seakan-akan sebuah kebenaran,” ungkapnya.

Dampaknya banyak pelaku pasar menjadi tidak fokus. Distraksi informasi tersebut sangat disayangkan karena mengaburkan data di pasar. ”Aksi jual juga tidak semua karena sentiment negatif. Banyak aksi jual karena mekanisme pasar sewajarnya yang salah satunya ketentuan dari margin call atau telah berlalunya momen cum-dividen,” William menjelaskan.

Maka William menyarankan kepada seluruh pihak dalam situasi banjir sentimen itu, kembali menilai emiten berdasar fundamental perusahaan. ”Yang harus dilihat fundamental. Jangan melenceng dari fokus. Market membutuhkan jati diri pelaku pasar Indonesia yang memiliki daya juang tinggi untuk membantu supaya pulih, dan bangkit lagi,” tegasnya.

Beberapa sektor masih menjadi perhatian pelaku pasar. Di sektor perbankan, misalnya, meski ada “ketakutan yang menular” di para pelaku pasar, saham-saham bank besar masih dinilai relatif defensif karena ditopang likuiditas, dan profitabilitas stabil. Begitu juga sektor lainnya seperti telekomunikasi.

Di sektor energi dan utilitas, sejumlah analis masih melihat peluang pada emiten dengan infrastruktur strategis, dan posisi pasar kuat. Salah satunya Perusahaan Gas Negara (PGAS). Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana dalam risetnya menerangkan fundamental bisnis PGAS kian solid. Itu seiring potensi tambahan keuntungan bersih dari anak usaha yaitu Saka Energi bergerak di hulu migas sejala kenaikan harga minyak dunia. 

Laba inti PGAS sampai akhir tahun ini diperkirakan tumbuh setidaknya 3 persen menjadi USD332 juta secara Year on Year (YoY). ”Kami tetap merekomendasikan PGAS karena cerita pertumbuhannya masih solid,” ungkapnya. 

Saham PGAS direkomendasikan beli (buy) dengan target price (TP) sebesar Rp2.300 per lembars. Mulai beroperasinya infrastruktur pipa gas Cisem II mulai April 2026 diproyeksi akan meningkatkan pasokan gas ke Jawa Barat sehingga mendukung tambahan volume distribusi. ”Dengan posisi kas PGAS kuat, kami memperkirakan rasio pembayaran dividen (payout ratio) sekitar 80-95 persen pada 2026, menyiratkan dividend yield menarik di kisaran 11 persen dengan asumsi tidak ada impairment,” imbuhnya.

Senada, Riset Global UBS Sekuritas dalam riset terbarunya mencatat kekuatan fundamental bisnis PGAS dengan aset infrastruktur dominan. PGAS mengoperasikan lebih dari 10 ribu kilometre pila hilir atau setara 96 persen dari total jaringan pipa Indonesia. Selain itu, memiliki dua FSRU di Lampung, dan Jawa Barat ditambah fasilitas regasifikasi di Arun, dan 12 blok migas Indonesia, dan Amerika Serikat (AS).

Secara keuangan, PGAS menurut riset ini memiliki neraca sehat dengan posisi net cash terus bertambah. Pada 2025, kas bersih PGAS sebesar USD594 juta, dan diperkirakan meningkat menjadi USD1,090 juta pada 2026 lalu USD1,408 juta pada 2027. Dengan posisi arus kas makin sehat, PGAS diharap akan terus menjaga rasio dividen level tinggi. Pada RUPS terbaru, PGAS mengumumkan pembayaran dividen dengan rasio 80 persen.(*)