EmitenNews.com - Harga emas dunia melanjutkan tren kenaikan hingga menyentuh kisaran USD4.400 per ons pada perdagangan hari Selasa. Capaian ini mencatatkan level tertinggi dalam dua bulan terakhir yang didorong oleh penguatan permintaan investasi terhadap logam mulia.

Kenaikan harga tetap terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang memicu risiko inflasi serta membakar ekspektasi kenaikan suku bunga acuan. Penguatan harga emas mendapat dorongan kuat dari aktivitas pemborongan yang dilakukan oleh investor asal Tiongkok.

Investor institusional di negara tersebut terus menambah kepemilikan emas batangan sebagai langkah lindung nilai untuk mengantisipasi gejolak di pasar keuangan lain. Kondisi ini membuat produk dana yang diperdagangkan di bursa atau ETF berbasis emas di Tiongkok mencatatkan durasi arus masuk modal terpanjang dalam beberapa bulan terakhir.

Trading Economics melaporkan, Bank Sentral Tiongkok turut mempercepat aksi pemborongan cadangan emas. Otoritas moneter Tiongkok menambah cadangan emas sekitar 20 ton pada bulan Juli, naik dari penambahan bulan Juni yang sebesar 15 ton. Langkah tersebut menjadi aksi penambahan cadangan bulanan terbesar yang dicatatkan Bank Sentral Tiongkok sejak Oktober 2023.

Di sisi geopolitik, pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan konflik serta membuka kembali jalur perdagangan vital di Selat Hormuz.

Selain itu, para pelaku pasar saat ini sedang mencermati rilis data inflasi penting dari Amerika Serikat pekan ini guna mendapatkan petunjuk arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve.

Dinamika kenaikan harga emas global ini turut memberikan dampak langsung bagi pasar keuangan dan komoditas di Indonesia. Pergerakan harga logam mulia dunia menjadi acuan utama bagi pembentukan harga emas batangan domestik serta memengaruhi ketertarikan investor dalam negeri yang menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.(*)